Selasa, 04 November 2014

5 Misop Terenak Di Medan



Lima Mie Sop Terenak di Medan (Garansi Uang Kembali!)











Medan memang benar-benar tempat wisata kuliner. Segala jenis makanan yang berasal dari berbagai daerah justru menjadi lebih nikmat saat dijual di Medan.
Sebut saja Bika Ambon. lebih terkenal di Medan ketimbang di Ambon sendiri :D
Makanan medan memang terkenal dengan rasanya. "Berani Bumbu" istilahnya. Resepnya nggak pelit-pelit dalam mencampur bumbu-bumbunya.
"3 siung bawang merah, 2 cabe rawit..." issss nggak Medan banget!
Medan itu biasanya: setengah kilo bawang merah, seperempat kilo cabe rawit dll.
Dan yang pasti "nggak sekedar dibuat" dengan hanya menampilkan nama makanan yang diharapkan membuat orang tertarik, seperti: Bika Ambon Setan atau Bika Van Hollano, misalnya :D
Kalau cuma menang nama, bakal nggak laku! Tapi kalau enak, mahal pun bakalan laris.
Jadi jangan harap akan laris kalau cuma mengandalkan tempat-tempat yang prestisius atau elite. Kalau seperti itu, bakal dianggap "sok-sok'an!'.

Ternyata di Medan itu ada makanan yang namanya "Mie Sop" alias sop yang dikasih Mie. Sebenarnya varian dari bakso, tapi dengan bumbu yang komplet sehingga warna kuahnya aja keruh dengan rasa yang nempel di lidah. Jadi bukan sekedar air kaldu yang bening trus dikasih garam terus ditambahkan kecap dan saos.

Mie sop atau Misop itu Biasanya menggunakan daging sapi atau ayam yang dihiasi gajebo atau lemak-lemak sapi yang mengapung menghiasi kuahnya. Sruuuuuupppp uenak tenan!

So here THE Five Miesop enakest (terenak) di Medan:

1. Mie Sop Methodist.
Disebut begitu karena tempat berjualannya di depan kampus Methodist. Dengan warna kuah yang kehitaman seperti rawon dan irisan daging sapi yang tumplek-bleg di atas Mie membuat liur sayang untuk tidak ditelan.
Saat ini Mie sop Methodist sudah berpindah tempat di Jl Cik Ditiro. Harganya pun sudah berkisar 25 ribu dari 10 ribu, 15 ribu, 20 ribu dan sekarang 25 ribu.
Tapi jangan khawatir bagi yang rada ngirit karena bokek atau ngirit karena pelit, karena ada porsi hematnya. Yaitu porsi setengah dengan harga 15 ribu.
Kalau aku sih biasanya beli yang porsi Full tapi tanpa tauge dan Mie. Biasanya aku tidak makan di tempat, aku bawa pulang dengan dibungkus plastik karena kuahnya cukup untuk 2 kali makan. Tinggal beli ayam goreng, jadi deh Full Mie Sop lagi.


2. Mie Sop Polonia
Ya, namanya juga diambil dari nama lokasi jualan yaitu di jl Polonia. Gak kreatif banget ya?
Mie sop ini biarpun terletak di atas parit tapi pengunjungnya selalu berjubel. Selain memang Mie Sop
Yang enak juga aroma parit sepertinya menambah sedapnya rasa.
Keistimewaan Mie sop ini terletak di daging ayam gorengnya. Kalau kuahnya, usah pasti dijamin enakest.
Kita juga bisa memesan ayam goreng perporsi dengan bumbu sambal kecap plus bawang goreng.
Harga terakhir adalah 15 ribu per porsinya dan untuk ayamnya 30 ribu. Untuk paket hematnya tidak ada, tapi kalau lagi beruntung akan banyak dapat Suwiran daging ayam.


3. Mie Sop Beruang atau Mie Sop AURI.
Mie sop ini terletak di kompleks AURI belakang Inul Vista Multatuli.
Begitu kita datang akan disambut pelayan dengan ramah karena Ternyata setiap mejanya merupakan jatah untuk fee mereka. Jadi nggak heran kalau mereka bakal berebutan nawarin kita. Agak nggak enak juga sih, tapi karena rasa Mie sopnya yang enak maka hal-hal seperti itu bisa diabaikan.
Per porsinya 15 ribu, tapi bisa jadi lebih karena kita bakal nggak tahan untuk nyicipi sate kerang dan risolnya. Wal hasil bisa kena 30 ribu juga ntar. Sepertinya jebakan yang baik.


4. Mie Sop Anjar Family.
Nah, ini sebenarnya terkenal dengan Baksonya tapi Ternyata berubah varian menjadi Miesop juga karena tak jauh dari tempatnya jualan ada Miesop Ramli yang tak kalah enaknya. Sayangnya Miesop Ramli sering menyuguhkan tulang ayam di Miesop nya ketimbang daging ayam. Jadi aku nggak masukan dalam 5 Miesop terenak di Medan.
Miesop Anjar Family itu terletak di Jl Krakatau dekat simpang UMSU. Sudah terkenal dengan Baksonya sejak dulu kala. Ciri khasnya ada daging dan lemak 3 buah yang disajikan tiap mangkok nya. Dijamin enak tuenannnn!


5. Mie Sop Mandala.
nah, ke lima Miesop terenak itu, Miesop Mandala lah yang paling murah. Harganya cuma 9 ribu. Sudah ada Bakso dan daging ayamnya.
Uniknya, pencampuran bumbu-bumbunya dapat dilihat langsung karena tiap kuahnya mau habis, maka mereka akan menuangkan air kaldu lagi kemudian menambah bumbu-bumbu racikan yang sudah jadi, sehingga rasanya tidak lekang dimakan waktu. halaaaa
Kalau kamu memesan minuman, jangan lupa minuman khas Medan "Cap Badak". Hampir samalah dengan Cocacola tapi menurutku lebih enak Cap Badak. Selain lebih murah juga nggak terlalu banyak sisanya.



OK itu aja yang bisa kubagi. jangan lupa mampirlah ke situ. Kamu nggak akan dianggap ke Medan kalau belum merasakan Miesop Medan yang Endang-Gurindang-Nendang!










Kamis, 30 Oktober 2014

No Body's Perfect


Aku bertanya-tanya siapa orang yang bakal duduk di sebelahku. Tiba2 muncul seorang lelaki dengan baju kotak2 warna biru. "penampilan yang umum," pikirku. Tinggal tambah kacamata hitam, komplit sudah keumumannya.
Dia membawa tas sandang besar yang sarat isinya. Dia terus mendekap tas itu.
"tasnya letakin di bagasi di atas!" perintahku.
"oh, maaf. Ada tempatnya ya?" katanya sambil bergegas berdiri untuk meletakkan tasnya.
Tak lama, dia balik lagi. Kali ini dia memijak sepatuku. Aku mengusap-usap sepatuku yang dipijaknya.
"maaf, pak. Nggak sengaja!" katanya dengan segan. Aku tidak mengopeninya. Aku asik dengan Ipadku.
"memang boleh ngidupin HP di pesawat,pak? Kalau dari yang saya baca, katanya nggak boleh!"
"ini bukan HP. Ini Ipad! ini sudah di Flight Mode!"  kataku tanpa menoleh ke arahnya. Aku terus bermain game Sudoku.
"itu kayak angka togel ya?" tanyanya lagi. Aku tak menggubrisnya. Dia terus memandangi aku bermain sudoku.
"bapak mau ke jakarta ya?"
"nggak! Nanti di perempatan saya turun!" kataku ketus.
"maksudnya?"
"ya lihat aja boarding passnya! Jakarta kan? Memang ada alternatif turun dimana lagi? Pasang sabuknya!" kataku ketus lagi. Dia terus berusaha mencari-cari sabuknya. Dengan kesal aku membantunya dan memasangkannya. Dia menarik nafas lega.
"saya baru kali ini naik pesawat," katanya lagi. Ehm... seperti yang sudah kuduga. 
"bapak ada urusan apa ke jakarta?" dia bertanya lagi.
"its not your business!"
"oh...bisnis. Kalau saya ada keluarga yang pesta. Nggak enak kalau nggak datang. Dia sepupu saya. Dia minta saya datang, ya...karena dikasih sama Tuhan rejeki, ya saya datang," dia terus nyerocos sementara aku tetap bermain sudoku.
"saya Herman, pak!" katanya memperkenalkan diri. Aku pura2 nggak dengar dengan seakan berpikir memecahkan sudoku.
Dia mengambil majalah namun kemudian menggantinya lagi dengan buku petunjuk pesawat. 
"pesawat yang kita naiki sekarang yang mana,pak?" tanyanya sambil menunjukan gambar jenis2 pesawat. Aku menunjuk sekenanya dengan tangan kiriku.
"oh, yang ini. Ini terbesar kedua lho pak. 737-900 ER." dia membaca serial pesawatnya.
Tiba2 dia menyentuh lengan kiriku. Dia memberi isyarat agar aku menoleh kepada pramugari yg sedang membagikan permen. "sexy ya pak? Kayak angel karamoy! Bersih!" katanya lagi. Aku menoleh tanpa memberikan ekspresi.
"suka yg kayak angel karamoy pak?" tanyanya lagi. Aku tetap konsen dengan sudokuku.
 "kalau luna maya,pak?" aku tetap tak bergeming.
 "ehm...pasti bapak suka kris dayanti! Ya kan?" aku masih tak bergeming.
"olga syaputra suka, pak?" katanya sambil senyum2. Aku menoleh dengan wajah sangat kesal.
"duduk di situ aja, kosong! Sebenatar lagi take off, kamu bisa lihat2 dengan jelas dari situ! Baru pertama kan?" kataku sambil menunjuk bangku kosong dekat jendela.
Dia kemudian beranjak pindah. Namun tersangkut sabuk yg masih dikenakannya. Dia berusaha membukanya.
Pesawat sudah akan take off. Dia memjamkan mata. Tangannya menggenggam erat pegangan kursi. Mulutnya komat-kamit seperti berdoa. Saat pesawat sudah pada posisi aman, dia mulai melihat keluar jendela. Merapatkan wajahnya ke kaca jendela dan menoleh kesana-kemari.
"ngantuk pak?" tanyanya saat melihatku mengucek2 mataku. Aku tidak menjawab. "kalau main itu aja,pusinglah nati, pak!"
"nggak! Saya cuma ngantuk!" jawabku.
"ya tidurlah,pak!" 
"saya nggak mau tidur! Dan mungkin gak akan bisa tidur!" jawabku. Itu karena ada kau, kataku dalam hati.
"kalau gitu, saya ada cerita lucu!" katanya. Oh no! cerita lucu apalah yang bisa kau berikan untukku. Aku diam aja, tidak memberikan persetujuan. Tapi dia cerita aja.
"jaman dahulu kala..." katanya membuka cerita. Ah, kalimat usang yang sudah lama tak kudengar.
"ada istri raja yang akan ditinggal pergi. Supaya tidak terjadi hal2 yg tdk diinginkan..."
"dikasih silet kan?" huh...1926!
"iya!" dia tertawa terkekeh. "bapak udah tau? Lucu ya?"
Aku diam aja tak memberikan respon.
"kalau cerita tentang penunggang unta, udah tau pak? Belum kan?" 
"udah...udah...!! Saya mau tidur aja!" jawabku dengan terpaksa daripada mendengrkannya nyerocos terus.
"tidurlah,pak! Biar saya yg jaga!"
Jaga apaan? Kau kira, aku butuh babby sitter?
Belum lagi aku benar2 terpejam, suara dengkuran membuatku terusik. Dia malah yg tertidur dengan menyandarkan kepalanya di bahuku. Arrrggghhh...
Dengan tangan kananku, aku mendorong kepalanya. Kemudian aku mengusap2 tanganku ke celana karena rambutnya yg sangat berminyak.
Tiba2 dia terbangun. "udah nyampe pak?"
"belum! Masih 1 jam lagi!" jawabku dengan kesal.
"udah sampai dimana sekarang kita pak?"
Aku tidak menjawabnya. Kau kira ini naik bus!
"Bandung udah lewatlah ya pak?"
Arrrgghh....pertanyaan macam apa itu! Aku benar2 sebel!
Tiba2 dia mengeluarkan dompetnya. Mengambil sebuah poto. Dia menunjukannya kepadaku. "Ini poto istri dan anak2ku, pak!"
Dengan malas aku mengambil poto itu. Seorang wanita gemuk dengan 2 orang anaknya.
"cantik istri saya ya,pak?" tanyanya. Aku tidak menggubrisnya. Cantik? Survey dari mana?. "kami ketemunya waktu sama2 kerja di Pajak ikan lama. Saya kerja di Moris Textil, istri saya kerja bantu2 jualan es buah bapaknya. Sampai sekarang mertua saya masih jualan di sana. Kalau sempat, singgahlah! Esnya enak,pak! Laris aja tiap hari. Dia satu tempat sama tukang sate." kenangnya. Entah kenapa kali ini aku berminat mendengarkannya.
"waktu itu saya disuruh bos saya untuk beli minuman. Saya belilah di sana. Kebetulan dia yang jualin karena bapaknya lagi sembahyang. Saya perli2 dia,pak. Eh, dia ngelawani saya. Saya yakin kalau dia suka sama saya. Sejak itulah kami terus akrab." dia memandangi poto yang dipeganginya.
"rumah dia di mandala, sedang rumah saya di helvetia. Jauh kan pak? Tapi tiap malam minggu saya datang. Dulu saya belum punya kereta, jadi naik angkot kemana-mana. Saya sering ajak dia jalan2, paling sering ke simbahe. Mandi2. Kalau minggu dia nggak jualan,pak! Jadi kami kalau minggu sering jalan-jalan."
"waktu kami mau nikah, saya di PHK sama bos saya. Dia mau pindah ke Siantar katanya. Rukonya ngontrak kalau di situ, tapi kl di siantar punya dia sendiri. Baik sebenarnya bos saya itu. Saya dikasih pesangon 600 ribu. Langsung saya beliin cincin. Namanya perempuan, paling senang kalau dibeliin emas kan,pak?"
"pas kami menikah, yang dateng sedikit karena hujan lebat dan rumahnya banjir. Kata orang pertanda buruk, tapi saya nggak percaya. Ya, amplopnya memang dapet sedikit juga! Tapi yang penting bisa untuk bayar sisa utang," dia tertawa.
"habis menikah kami tinggal di rumah saya bareng keluarga saya. Biasanya saya sekamar sama adik2 saya karena cuma ada 2 kamar, jadi kamar itu kami tempati. Adik2 saya tidur di ruang tamu. Karena itu kamar lajang dulunya, tempat tidurnya gak ada. Jadi satu sama pisang2. Bapak saya tukang ambil pisang mentah trus diperam sendiri. Kalau udah mateng baru dijual. Susah punya anaklah kami kalau kamarnya kayak gitu.  Nggak konsen kalau mau 'ngambil' karena banyak pisang. Apalagi adik saya yang perempuanpun kadang tidur sama kami." dia tertawa lagi.
"saya bantu2 jualan pisang bapak saya. Eh, kok kebetulan Kek Sugeng adik nenek saya nawari saya kerja di perawang pekanbaru. Ya saya mau lah. Saya manggilnya kakek, tapi umurnya masih muda. Tuturnya aja begitu."
"di perawang saya kerja deres sawit. Kami dikasih rumah tapi gabung sama yang lain juga. Ada 2 orang yang sudah menikah. Untungnya belum punya anak semua. Anak saya pertama lahir di sana. Namanya Riska Safitri. dia menunjuk seorang anak perempuan dengan rambut poni di poto tadi.
"Umurnya 7 tahun. Baru masuk sekolah tahun ini. Tapi dia sudah pandai nyanyi bahasa inggris,pak! Nggak tau belajar sama siapa."
"lagu apa?" tanyaku.
Dia agak terkejut karena aku mau bertanya. 
"you are beautiful...beautiful...cherrybelle! Katanya artinya kamu cantik...cantik dari hatimu... Bapak tau artinya? Pasti bapak bisa bahasa inggrislah ya? Betul artinya itu pak?"
Aku tersenyum dan mengangguk. Dia bangga sekali.
"anak saya yang kedua..." dia menunjuk anak perempuan satu lagi dipoto.
"ini namanya Siska Marisa. Umurnya 5 tahun. Belum sekolah. Dia lahirnya di medan. Pas istri saya hamil, bapak saya meninggal. Jadi kami balik ke medan. Eh...kok pas lahirnya di sana. Dia belum lancar bicaranya tapi dia suka nyapu atau nganterin teh untuk saya kalau saya pulang kerja." dia memandangku yang tertegun mendengar ceritanya.
"bapak sudah menikah?"
"ehm...sudah! Kenapa?" 
"potonya ada?"
Astaga, aku sudah ganti dompet. Dulu sih ada poto anak2ku tapi aku lupa apakah aku masih meletakkannya di dompet atau nggak. Aku ragu menarik dompetku. Tapi ya sudahlah... Dan ternyata memang tidak ada poto di dompetku. Dia memandangku tanpa ekspresi.
"itu mereka sedang apa pak?" tanyanya menunjuk pramugari yang sedang menjajakan jualan.
"mereka jualan!"
"jualan apa?"
"itu ada katalognya di sana. Lihat2 aja!"  entah kenapa aku jadi baik kepadanya setelah mendengar ceritanya.
Dia mengambil katalog dan melihat2 sampai dia menemukan pensil warna seharga 45 ribu.
"saya mau yang ini 2 ya?" Katanya saat pramugarinya datang.
"lho, dompet saya mana?" katanya panik. Kemudian dia mendapati dompetnya dikursi dekat pahaku.
"ya ampun, bapak ini...ganteng2..." katanya mengagetkanku.
"apa? Kamu kira saya ngambil dompetmu? Kan kamu sendiri yang letakin di situ!" aku benar2 emosi. Eh, dia malah cengengesan.
"tenang pak! Bercanda aja! Bapak ini orangnya seriusan ya saya lihat dari tadi!"
Dia membuka dompetnya. Terlihat dompet lusuh dengan banyak lipatan kertas di dalamnya. Sementara saya hanya melihat 3 atau 4 lembar uang 50 ribuan.
"sembilan puluh ribu ya,mbak? Yang ini aja ya..." katanya sambil mengeluarkan uang dari saku depan celananya yang sudah kumel2.
"biar saya aja yang bayar!" kataku kemudian. Ah, malaikat mana lah yg tadi menyuruhku berbuat ini.
"nggak usah,pak!"
"nggak apa2! kan untuk anak2 kamu kan? Anggap aja ini hadiah!"
"mbak denger sendiri ya! Saya nggak minta!" katanya kepada pramugari yang membuatku sebenarnya sedikit jengkel.
Dia menerima 2 buah pinsil warna dari pramugari. Dia menyalamiku dan berterimakasih.
"dompet biarpun jelek dan gak ada isinya tapi yang penting ada poto keluarga. Bisa bawa hoki." katanya sambil menunjukan dompet lusuhnya dan memasukan ke saku belakang celana.
"hoki apaan?" kataku dengan senyum sinis.
"lha...buktinya, begitu bapak ngintip dompet saya tadi, ya kan? Bapak jadi bayarin saya. Berarti kan hoki!" katanya tertawa lagi.
Pesawat sebentar lagi landing. Dia ambil posisi seperti saat take off. Berpegangan erat pada pegangan kursi, memejamkan mata dengan mulut komat-kamit.
Ya...poto keluargaku...kemana aku letakkan?????





Kutukan Cinta


suasana kampus, hiruk pikuk.

Rani: Mel, cowok yg di sana itu bukannya Feri anak IPS SMA kita dulu?
Melda: yang mana sih?
Rani: itu yang berdiri di sana itu...
Melda: eh, iya Ran...bener! itu Feri, anak IPS yang kamu taksir dulu. samperin gih!
Rani: ah...malu ah Mel! masak sih cewek yang nyamperin cowok?
Melda: Yaelah Ran...kamu mau menunggu lagi kayak dulu? ini tuh saatnya yang tepat. kayaknya kalian memang jodoh, buktinya sekarang satu kampus.
Rani: tapi...
Melda: udah, ayo! aku temenin yuk?
Rani: iya....iya...tapi jangan narik2 tanganku gini dong! ntar kalau dia lihat kan malu, kesannya gimana...gitu!
Melda: ya udah, makanya buruan yuk!

Rani: Hai...Kamu Feri kan? anak IPS dulu?
Feri: eh, iya...kamu Rani kan? yang dulu pernah kirim surat ke aku? aduh sori ya...waktu itu aku nggak ada feeling ke kamu. kamu kuliah di sini juga? ambil jurusan apa?
Rani: Biologi...kalau kamu?
Feri: Hukum. ya...cuma iseng2 aja sih!
Melda: gila! kuliah pake iseng2...dikira isi TTS!
Feri: ya...tujuannya sih biar dapet gelar aja, toh setelah ini aku ngelanjutin usaha papaku. eh, udah dulu ya...kebetulan aku ada jam kuliah nih sekarang. kita lanjutin obrolan kita via sms aja nanti ya?
Rani: nomer HP kamu berapa?
Feri: waduh...berapa ya? aku nggak ngafalin no HPku sendiri nih. sori ya? ntar deh aku kasih. sori banget nih, aku cabut dulu ya?


Rani: ya ampun Mel...makin ganteng aja si Feri. 
Melda: Iya...tapi gayanya itu... selangit. kayak udah paling kecakepan aja!
Rani: ih...kamu kenapa sih sewot melulu sama semua orang.
Melda: kalau aku boleh kasih saran sih...sebenernya cowok yang begitu itu nggak pantes buat kamu. bakal makan hati!
Rani: Makan hati? ah...yang penting kan ganteng...
Melda: Makan tuh ganteng!
Rani: tapi ngomong2...berapa nomor HP nya ya? nggak sabar nih.
Melda: ah, itu sih gampang! aku banyak kenal anak hukum! udah ah...yuk ke kantin! haus nih.

bertubrukan dengan seseorang

Rani: aduh maaf! nggak sengaja...aku buru2...kamu nggak apa2 kan?
Verry: ehm gak apa2...kamunya sendiri gimana?
Rani: aku nggak apa2. aduh, jadi berantakan nih buku2 kamu. aku bantuin ya?
Verry: nggak usah! kamu kan lagi buru2...
Rani: oh, ya udah deh...sekali lagi sori ya?

berjalan

Melda: eh, cowok tadi itu siapa ya? kayak pernah kenal. lumayan keren juga tuh!
Rani: udah...mau berapa banyak lagi sih cowok untuk kamu? entar si mamas marah lho!
Melda: ye...maksudnya sih untuk kamu Ran!
Rani: ah...bukan tipeku tuh! kurang gaya!

Lagu....

suara hiruk-pikuk kampus

Melda: Rani....
Rani: ada apaan sih? kayak dapet lotre 1 milyar aja!
Melda: ih, ini lebih mahal tau!
Rani: apaan?
Melda: ye...tebak dong!
Rani: ah...puyeng ah! to the point aja deh! apaan?
Melda: aku...aku dapet no HP feri...
Rani: Ciyus?
Melda: Miyabi ! ya ciyus dong! nih no HPnya! buruan deh sms!
Rani: Ya ampun Mel...cepat banget cara kerja kamu. nggak sia2 deh punya temen tengil kayak kamu!
Melda: apa? tengil? yang ada tuh...aku ini primadona kampus,tau! semua mahasiswa di sini, nggak ada yang nggak kenal dengan daku. biasalah! cantik mempesona, menawan hati dan tidak sombong! 
Rani: Rajin menyabung juga pintar
Melda: ih...kok menyabung sih? ayam kale! udah ah! entar malam aku ke rumahmu ya? pengen ngelihat kamu smsan.
Rani: ih...want to know aja!
Melda: oh...gitu ya? aku udah capek2 nyari tuh nomor HP, trus begitu udah dapet...aku dicuekin?
Rani: aih,.,aih,..tenang sob! becanda aja kale! ya udah, aku tunggu!

Lagu

di dalam kamar. backsound lagu

Rani: kok aku jadi nervous gini?
Melda: tenangkan dirimu kawan! Belanda masih jauh!
Rani: ini bukan urusan Belanda! ini tuh urusan cinta, tau!
Melda: ya sama ajalah! cintamu sama si Belanda minta tanah itu.
Rani: ih...jauh bangetlah ama Belanda! Feri tuh lebih tepat Espanyola...Mama mia kerena...
Melda: udah...buruan sms!
Rani: aku mesti ngomong apa? ya udah...gini aja,"hai Fer...ini Rani yang ketemu kamu tadi siang. lagi ngapain?" astaga...langsung di balas Mel! "Lagi nemenin mama nonton TV?" ya ampun...anak yang baik budi banget...aku bilang apa lagi nih?
Melda: tanyain dong! kamu udah punya pacar atau belum!

Rani: ok boss! wah...dibales lagi nih. "Belum. emangnya kenapa?" aduh...belum punya pacar lho Mel! 
Melda: udah to the point aja! bilang kalau kamu tuh dari dulu suka sama dia!
Rani: ehm...ok,"Fer, aku nggak nyangka kalau kita bisa di kampus yang sama. dari dulu aku naksir kamu" waduh...langsung dibalas nih," sama, aku juga dari dulu udah naksir kamu dan nggak nyangka kalu kita satu kampus!"
Melda: cie...umpan disambar...bilang buruan,"apakah besok bisa ketemu di kantin?
Rani: bisa...katanya Mel. ih...thanks banget ya Mel...muah...muah...
Melda: kamu belum ngasih tau jam berapa non!
Rani: ups...jam 10 aja ya? nggak ada jadwal kuliah kan?
Melda: ehm...gak ada tuh!
Rani: yessss....bisa jam 10 katanya Mel.
Melda: jus alpukat, nasi goreng plus es krim untuk penutupnya.
Rani: ih....apaan sih?
Melda: itu belum seberapa dengan jerih payahku, tau!

Lagu


hiruk-pikuk kantin

Melda: Rani....ya olo...cantik banget....kamu mau ikutan putri indonesia atau mau kencan sih?
Rani: ih, lebay deh! tapi beneran kan aku cantik?
Melda: ya iya lah! kalau ada yang bilang kamu jelek paling cuma Chef Juna.
Rani: ih...najis amit2 ama dia!  cowok kok sadis! eh...Mel...Mel...itu Feri kan?
Melda: Iya...kayaknya dia udah nungguin kamu tuh!
Rani: tapi kenapa nenek sihir ada di situ sih?
Melda: alaaa cuekin aja! dia sih emang sok akrab ama semua cowok. kecakepan!
Rani: tapi kok mereka kayaknya mesra banget...
Melda: oh come on Beb...yang penting kan kalian udah janjian. udah, jangan ambil pusing ama nenek sihir satu itu.

suara langkah kaki:

Verry: Hai Rani...
Rani: eh, kamu...aduh maaf ya kemaren tuh aku nubruk kamu. tapi buku2 kamu nggak rusak kan?
Verry:  oh, nggak...nggak apa2 kok. kita duduk di situ aja yuk?
Rani: ehm....aduh maaf ya...aku ada janji. lain kali deh. udah ya...aku tinggal dulu.

Rani: Hai...Fer...
Feri: hmm...hai! oh kamu...mau makan juga?
Rani: iya sih...
Ica: Kamu kenal ama Rani, Fer?
Feri: Kenal sih...katanya kami dulu satu sma. 
Rani: kok katanya sih?
Ica: oh...satu sma. kamu mau makan? ya udah sana cari tempat sendiri!
Rani: aku mau ketemu Feri kok!
Feri: ketemu aku? kamu masih naksir aku? kok nggak kirim surat lagi sih kayak dulu waktu masih sma?
Rani: tapi kamu kan...
Feri: ini Ica...dia pacarku. masih mau maksa supaya aku cinta sama kamu?
Rani: kok kamu gitu sih Fer? tadi malam kamu janji mau ketemu di kantin...
Feri: janji? halo...kamu nggak ngigau kan?
Ica: udah deh Fer...Rani ini emang orangnya emang tungar! tukang ngarang...hahaha
Rani: kamu sms aku tadi malam...
Feri: sms ? uh...gimana aku bisa sms kamu? no hp kamu aja aku nggak tau! kayaknya kamu udah laper berat deh! sehingga kamu ngigau...
Rani: (menangis) kamu jahat banget sih Fer...kan kamu yang...
Ica: aduh...sedih banget...kayaknya kamu berharap banget ya? dalem banget...sampai nangis gitu. entar kalau yang lain lihat, bisa dapet sumbangan tuh! lumayan...bisa buat bayar makan kamu nanti...

Lagu

Rani: (menangis)
Melda: waduh...sampai segitu terharunya...biasa aja kale! baru pertama kali ya ditembak ama cowok?
Rani: (menangis)
Melda: ada yang nggak beres ya? kamu kenapa? nenek sihir mengacaukan segalanya ya?
Rani: bukan cuma nenek sihir...tapi Feri juga!
Melda: feri? kok bisa? bukannya...
Rani: dia tuh cuma mau mempermainkan aku aja Mel! kamu ngerti nggak sih? aku juga udah punya firasat, masak dia menerima aku secepat itu.
Melda: iya...tapi kan...
Rani: aku malu banget Mel! malu...banget! kayaknya aku wanita yang paling bodoh sedunia sehingga bisa dipermainkan sama dia begitu aja.
Melda: Busyet...apa perlu aku datengi dia?
Rani: nggak usah Mel! percuma! aku akan lebih malu lagi. aku sadar...aku nggak pantas untuk dia...aku cuma pungguk yang merindukan bulan...
Melda: ih...dasar bajingan ya tuh anak! ya udah...jadi aku mesti ngapain?
Rani: aku juga nggak tau...aku nggak bisa ngebayangin kalau nenek sihir cerita kemana2...
Melda: ya pasti lah! kamu kan tau sendiri nenek sihir gimana...
Rani: (menangis)
Melda: udah...udah...gini...gini...kamu ikut aku aja yuk!
Rani: kemana?
Melda: udah...ikut aja! mudah2an kamu nggak sedih lagi...

Lagu

suara mobil

Rani: Istana Maimun? ngapain kita di istana maimun Mel?
Melda: udah...tenang aja! kamu mau ngilangin kesedihan kamu kan?
Rani: iya...tapi apa mesti di tempat ini? 
Melda: emang kamu sering ke sini?
Rani: nggak sih...tapi...
Melda: udah berapa kali?
Rani: belum pernah
Melda: nah...itu dia...kamu tuh sama kayak orang medan pada umumnya. nggak ada yang mau belajar sejarah daerahnya sendiri. cuma 20% penduduk medan yang datang kemari. sisanya turis dari kota lain dan umumnya orang malaysia.
Rani: kamu sendiri sering kemari?
Melda: Papa sering bawa aku kemari. papaku kan sejarahwan. tapi aku juga seneng kemari. tempatnya damai. aku jadi terbayang2 kisah2 masa lalu yang damai...nggak sesumpek seperti saat ini. itu juga yang bisa melupakan aku dari masalah dan kesedihanku...
Rani: kamu pernah sedih?
Melda: ya pernah lah! nabi aja pernah sedih...konon lagi aku! kamu cakep2 bego ya? 

instrumentalia

Rani: bagus2 banget ya...aku suka banget lukisan2nya...cewek2 dulu itu cantik2 ya? apa karena mereka seorang putri?
Melda: bukan! tapi karena mereka nggak banyak terkontaminasi oleh sampah2 seperti kita saat ini. dulu itu penyakit belum sebanyak seperti saat ini. sekarang...penyakit itu entah apa2 aja. semua berasal dari hati...hati kita. kalau orang2 jaman dulu, nggak banyak tuntutannya kayak kita. hati mereka damai...itu mengapa mereka cantik2.
Rani: Mel...kalau yang dalam kurungan itu apaan sih? 
Melda: itu...itu namanya meriam puntung
Rani: puntung? emang puntung kenapa?
Melda: itu meriam sakti. konon dulu itu dia adalah jelmaan dari seorang pangeran. pada saat adiknya melangsungkan pernikahan...itu tuh si putri hijau...pangeran itu menjelma menjadi meriam dan menembakkan kepingan uang logam emas. namun lama kelamaan dia kepanasan...eh...tiba2 ada prajurit yang menyiram air untuk meredam panasnya. ya...meriam itu terbelah menjadi 2. makanya namanya meriam puntung.
Rani: kok dikurung gitu sih?
Melda: nah...konon...siapa yang bisa menyentuh meriam itu dari luar kurungan dengan mata terpejam..maka permintaannya akan terkabul
Rani: ada yang pernah berhasil?
Melda: katanya sih ada...
Rani: kamu percaya?
Melda: ya nggak lah! 
Rani: kenapa?
Melda: teng tong...hei non...emang tangan kita panjangnya 3 meter? jarak dinding kurungan ke meriam itu...lebih kurang 3 meter tau! itu kan cuma mitos! tahayul! udah ah...aku mau beli minuman di sana tuh! kamu mau ikutan?
Rani: aku di sini aja dulu deh...mau lihat2 yang lain.
Melda: ya udah deh...kamu mau minum apa?
Rani: es kelapa aja deh...nggak usah pake gula ya?
Melda: ok...kita kan udah manis...
Rani: ih...iklan banget deh!

Instrumentalia

Rani: kira2...cerita Melda beneran nggak ya? tapi...logika juga sih...jaraknya jauh banget. nggak mungkin tangan kita bisa nyampe. ehm...tapi...ini kan hal gaib...siapa tau memang pernah ada yang berhasil. aku coba aja deh...iseng2...mumpung Melda nggak ada nih. biar nggak ditertawain...tapi aku minta apa ya? merem dulu deh... ehm...aku...minta...supaya...Feri...jatuh cinta...sama aku...
ih...berhasil nggak sih? aduh...keburu Melda dateng nih...ha...ini..ini apaan ya? astaga...ini meriamnya bukan sih?

Lagu

suara mobil dan suara tukang parkir memberi aba2

Melda: bang...ini bang...
Tukang Parkir: seribu? mbak...hari gene parkir seribu? nggak menghargain banget! dikira aku tukang parkir apaan?
Melda: jadi berapa?
Tukang Parkir: 100 ribu...
Melda: busyet!
Tukang Parkir: jangan kaget gitu dong! belum pernah ya lihat tukang parkir ganteng?
Melda: ih...ganteng? survey darimana? abang ini mau ngerampok atau mau memeras kami?
Tukang Parkir: susi kali diperas...
Rani: susu bang...bukan susi!
Tukang Parkir: ih...suka2 dong...kok protes! namanya juga tukang parkir...kehilangan bukan menjadi tanggung jawab saya...
Melda: ih...gak nyambung!
Tukang Parkir: gimana? bayar 100 ribu?
Melda: nggak!
Tukang Parkir: kalau nggak mau...aku punya tawaran menarik...kalian nggak usah bayar 100 ribu tapi...aku mau kenalan sama teman kamu itu...boleh?
Melda: sama Rani?
Tukamg parkir: oh...Rani...namanya secantik orangnya. kenalkan...namaku Feri...dari tadi aku lihatin kamu...entah kenapa tiba2 ada sesuatu yang berbisik...kalau kamu itu jodohku...makanya aku beranikan diri kenalan.
Melda: udah deh Ran...cuma kenalan doang...daripada bayar 100 ribu. besok juga  kita nggak jumpa dia...
Rani: iya sih...Rani bang...
Tukang Parkir: kamu masih singel kan? bisa minta alamat rumahnya?

instrumentalia

Rani: kalau tukang parkir itu dateng ke rumahku gimana?
Melda: ya nggak mungkinlah! dia itu cuma iseng aja tau! kalaupun dia dateng...ya tolak aja...atau teriakin maling...biar digebukin sama tetanggamu! udah ah...kita jalan2 ke mall aja yuk?
Rani: boleh deh...aku mau beli boneka...
Melda: ah...cucok kali bu! yuuuk mareee

instrumentalia

Melda : apa kabar bang? banyak laku hari ini?
Pemilik Toko Boneka: (logat batak) sepi kali...udah nggak ada lagi kurasa perempuan atau anak2 yang suka boneka
Melda: jangan nuduh lah bang...buktinya kawanku ini mau beli boneka
PTB: cantik kali kawanmu ini...cocok kali kurasa jadi istriku...
Melda: ih...abang ini...belum juga setahun jadi duda...udah keganjenan! kamu pilih2 deh Ran bonekanya...
Rani: yang ini aja...aku suka winny the pooh ini...berapaan ini?
Melda: bang...boneka yang ini berapaan? jangan mahal2...ini temen akrabku yang beli...
PTB: ah...ngapain beli! ambil aja lah...kalau mau yang lain juga boleh
Melda: serius dikit kenapa sih bang! 
PTB: ya aku serius lah...siapa nama kawanmu ini?
Melda: Rani...bang!
PTB: Rani...kalau kau mau boneka yang lain...ambil aja...gratis! kalau masih bingung...lain kali aja kau datang lagi...sendiri aja ya! berani kan kemari sendiri?....kau telepon dulu aku...ini kartu namaku...
Rani: ha? Feri Siregar?

Lagu

suara HP 

Rani: siapa sih magrib2 telepon? halo...selamat sore...
Feri: hai Rani...
Rani: siapa ini?
Feri: ehm...aku Feri...
Rani: Feri? untuk apa kamu telepon aku lagi? mau mempermainkan aku lagi?
Feri: ehm...gini Ran...dengar dulu penjelasanku...
Rani: udah lah...apa nggak cukup kamu mempermalukan aku di depan orang2?
Feri: iya...sori...aku tau kamu marah...tapi...sejak kejadian tadi siang...aku tuh kepikiran sama kamu terus...
Rani: nggak usah bercanda deh! moodku lagi nggak baik nih!
Feri: aku serius Ran...aku merasa bersalah sekali sama kamu. sepertinya...ehm...aku juga cinta sama kamu...
Rani: kamu nggak bosen2 ya mempermalukan aku terus!
Feri: aku serius Ran...coba sekarang kamu keluar deh...aku udah di depan rumah kamu

instrumentalia

Rani: kamu serius? kamu nggak mempermainkan aku kan?
Feri: ya nggaklah Ran...apa perlu aku bersumpah?
Rani: nggak...nggak usah...
Feri: kamu masih menyimpan rasa suka sama aku kan Ran?
Rani: ya...sebenarnya sih masih...
Feri: terimakasih Ran...kamu sepertinya memang ditakdirkan untukku. kita selalu ketemu. kamu sadar itu kan Ran?
Rani: iya...aku juga berharap begitu...tapi kenapa kemaren kamu lakukan itu sama aku?
Feri: aku bener2 nggak pernah sms kamu. aku nggak biasa sms...aku biasanya langsung telepon seperti sekarang ini. mungkin ada yang iseng aja!
Rani: trus...kamu tau nomor HP ku dari siapa?
Feri: ah...itu sih gampang! Ran...kamu terima aku kan?
Rani: ya...nggak bisa secepat ini...Ica bagaimana?
Feri: aku...aku akan putus aja dari dia...tekadku sudah bulat Ran...terima cintaku ya Ran? please...
Rani: janji ya...jangan pernah permainkan aku lagi?
Feri: jangankan janji...aku bersumpah...aku akan selalu mencintai kamu...

lagu

hiruk pikuk kampus

Verry: Rani...Rani tunggu...
Rani: kamu lagi...
Verry: hai Rani...
Rani: kamu sengaja nungguin aku ya?
Verry: iya...emang nggak boleh ya?
Rani: ya...itu hak kamu...tapi...ada keperluan apa?
Verry: aku mau tanya sama kamu satu hal...
Rani: apaan?
Verry: kamu pernah sms aku dan bilang...
Rani: sms?
Verry: iya sms...
Rani: tungggu dulu...aku pernah sms kamu?
Verry: iya...tempo hari...kamu bilang...kamu sudah naksir aku dari dulu...
Rani: oh...jadi itu kerjaan kamu! kamu yang sms ngaku2 feri? kamu jahat ya!
Verry: lho...aku memang Verry...kamu lupa sama aku?
Rani: kamu Verry juga? kalau kuperhatikan sih...kayaknya aku kenal dengan kamu...
Verry: Rani...kamu lupa dengan aku? aku Verry...kita pernah dekat waktu smp dulu...kamu ingat ini?

Rani: apaan tuh?
Verry: ini replika biola...ini cindera mata dari kamu saat kamu mau pindah sekolah...
Rani: astaga...Verry Kurniawan? 
Verry: syukurlah kalau kamu masih ingat...aku dari dulu nyari2 kamu...waktu kamu pindah SMP ke Bandung...aku selalu cari2 tau tentang kamu ...tapi kamu nggak pernah kasih kabar ke aku. dan Tuhan mempertemukan kita di sini...
Rani: ya ampun Ver...aku SMA udah balik ke medan lagi...sori ya...aku ngelupain kamu...
Verry: tapi aku nggak pernah lupa sama kamu...karena...kita berjanji kalau kita sudah selesai  SMA akan jadi sepasang kekasih...karena kalau masih di bangku sekolah...urusannya cuma...belajar...
Rani: (tertawa) iya...aku masih ingat...aduh...dulu kita masih anak2 banget sih...
Verry: sampai sekarang...aku masih berharap itu terwujud...
Rani: ehm...Ver...maaf...dulu itu mungkin karena kita masih anak2...kita nggak ngerti apa konsekwensi dari yang kita ucapkan...
Verry: tapi aku Cinta sama kamu Ran...aku tetap menunggu cinta dari kamu...
Rani: itu dulu Ver...tapi sekarang...itu nggak mungkin lagi...aku sudah punya pacar...
Verry: jadi...kamu menolak aku?

Lagu

suara HP berbunyi

Melda: Rani...kamu dimana? HP kamu dari tadi susah dihubungi...
Rani: sori...biasalah...aku lagi jalan sama Feri...tadi mungkin blank spot aja!
Melda: udah...mendingan...sekarang kamu pulang ke rumah kamu deh! aku udah di rumah kamu!
Rani: ada apaan sih?
Melda: udah...cepat pulang! ini penting!

instrumentalia

Feri: Da...Rani...besok pagi aku jemput kamu deh! boleh?
Rani: waduh...maksih banget kalu kamu mau jemput aku...
Feri: untuk kamu...apa sih yang nggak aku lakuin?
Rani: oke deh...sampai besok ya?

suara mobil...suara langkah kaki

Melda: ya ampun Ran...yang lagi jatuh cinta...sampai nggak ingat waktu! 
Rani: trus...tadi kamu bilang ada berita penting...
Melda: iya...tadi aku ketemu Bang Feri siregar...yang punya toko boneka itu...
Rani: kenapa dengan dia?
Melda: dia...dia mau melamar kamu!
Rani: gila bener itu orang!
Melda: itu dia...dia kayaknya udah tergila2 sama kamu! tau nggak...sekarang dia itu lagi menuju kemari! katanya habis magrib udah nyampe. dia mau ketemu dengan orang tua kamu!
Rani: apa? astaga...kok aneh2 aja ya tingkah orang...
Melda: itu belum aneh lagi...sekarang...coba kamu lihat di halaman samping...siapa itu?
Rani: itu...itu kan tukang parkir di istana Maimun...
Melda: nah...itu dia...dia udah 5 jam nungguin kamu...nggak makan....nggak minum...kayak orang stres gitu! duduk terus di samping...udah kamu disini aja...jangan temui dia. entar kenapa2 lagi...
Rani: ya Tuhan...ada apa dengan orang2 ini?
Melda: kamu mau berita yang paling penting?
Rani: apaan? 
Melda: Ica...
Rani: kenapa dengan Ica?
Melda : sejak dia diputusin sama Feri...dia jadi stres...dia mencoba bunuh diri...dan sekarang...dia diopname di rumah sakit karena percobaan bunuh diri juga...
Rani: Ya Tuhan....apa salahku?
Melda: aku nggak tau Ran...

lagu

Rani: Mel...kamu masih ingat nama tukang parkir itu siapa?
Melda: ehm...kalau nggak salah Feri ya? emang kenapa?
Rani: si pemilik toko boneka itu...Feri juga kan? Feri siregar?
Melda: iya...trus kenapa? cuma kebetulan aja kali nama mereka sama2 Feri...
Rani: nggak Mel...itu bukan cuma kebetulan...
Melda: Jadi?
Rani: masih ingat waktu kita ke istana maimun dan kamu cerita tentang meriam buntung? 
Melda: iya...aku masih ingat...
Rani: aku mencobanya Mel?
Melda: trus kamu mau bilang kalau kamu bisa menyentuh meriam buntung itu? 
Rani: iya Mel...aku bisa menyentuhnya...
Melda: itu mustahil!
Rani: ini masalah gaib...mungkin hanya orang2 terpilih saja yang bisa menyentuhnya dan....
Melda: termasuk kamu?
Rani: iya! pada saat aku mau menyentuhnya...aku mengucapkan permohonan yaitu agar Feri mencintaiku. permohonanku terwujud...
Melda: tapi...kamu tidak mengucapkan secara spesifik Feri yang mana...sehingga semua Feri jadi jatuh cinta sama kamu?
Rani: bener Mel...kita harus cari penangkal kutukan ini...kamu tau Mel?
Melda: aku nggak tau...tidak ada cerita atau hikayat mengenai penangkalnya. papaku juga nggak cerita...
Rani: jadi...aku harus bagaimana? aku merasa berdosa sekali Mel...seperti memaksakan takdir yang bukan menjadi hakku...kasihan si Ica...aku berdosa Mel...aku telah melakukan perbuatan sirik...
Melda: ah...aku baru ingat...kita tanya sama si Rudi pembawa acara Gak Samka di Citra Buana FM yang sotoi itu...
Rani: dia tau mel?
Melda: siapa tau aja! Gak Samka...yang bakal membuat sahabat citra gak samka...siapa tau aja! tapi dia mulai siaran jam 7 malam ini...
Rani: berarti sebentar lagi...ayo gih kita ke kamarku dengerin radio...

lagu

Rudi: selamat malam sahabat citra dimanapun sahabat citra berada...jumpa lagi dengan saya Rudi di Acara Gak samka sampai ke pukul 21 nanti...
Rani: buruan telepon Mel! ntar udah banyak yang telepon...kita nggak kebagian...
Rudi: ah...langsung aja kita terima penelepon pertama ya...
Rani: malam Rudi...
Rudi: malam...dengan siapa dimana?
Rani: aku Rani di Johor...Rudi...aku mau tanya...kamu tau nggak cerita tentang meriam puntung di istana maimun?
Rudi: emang kenapa? jangan bilang kamu bisa menyentuhnya ya!
Rani: aku memang bisa menyentuhnya...
Rudi: oh...berarti tangan kamu panjang banget ya? panjang tangan...berarti...pencuri dong!
Rani: ih...lebay banget sih! aku serius nih...aku bisa menyentuhnya...
Rudi: hebat dong! berarti permohonan kamu terwujud dong! wah...selamat ya? kamu minta apa? uang 5 milyar ya?
Melda: eh...Rudi...ini beneran! temanku Rani bisa menyentuhnya dan permohonannya terwujud, tapi...nggak sesuai seperti yang diharapkan...nah kami ingin tau penangkalnya...
Rudi: wow...ini paket hemat ya? 1 telepon berdua...?
Melda: ih...percuma deh kayaknya nanya ama kamu! nggak mutu!
Rudi: emang...aku nggak mutu! muka tua kan? aku kan masih muda belia...tapi nih ya...kalau aku jadi kamu...kenapa nggak ngilangi penangkalnya pake air aja?
Melda: ih...dikira ini kotoran? kamu tuh nyebelin ya! moga2 acaramu gak laku!
Rani: Mel...tapi kayaknya ada benernya juga...bukanya kamu bilang kalau meriam itu terbelah jadi dua karena disiram air?
Melda: oh...iya...
Rudi: halo...apa kalian masih di sana? udah ya...yang mau telepon udah ngantri nih! maklum...penyiarnya kan ganteng!
Rani: eh...Rudi...aduh...makasih banget ya sarannya...kami akan coba...aduh...sekali lagi makasih....muah...muah...I love you deh...aku janji akan dengerin acara ini terus...
Rudi: ih...mana boleh muah...muahnya ecek2... harus asli dong! ayo sekarang cepat ke studio!
Rani: udah gampang! ntar diwakilkan ama pakdeku aja...dia nanti yang ke studio dan muah...muah ke kamu...ditunggu ya...da Rudi...
Rudi: ih...amit2...mending dicium ama Yuni shara daripada ama pakdenya...

Lagu

Rani: ok...siap2 ya...kamu panggil gih sekarang si tukang parkir...jangan2 udah dirubungin lalat lagi...
Melda: ok...bang...bang feri...kemari deh bentar!
Tukang Parkir: Rani udah pulang? eh Rani...aduh...kok pake disiram-siram segala...ehm...ehm...kok aku bisa sampai di sini ya? 
Rani dan Melda: Tuhan...moga2 berhasil....
Tukang Parkir: oh iya...hei...aku mau nagih uang parkira, kemaren kan kalian belum bayar! 
Melda: aduh...adanya cuma 5 ribu nih bang...
Tukang Parkir: 5 ribu? banyak banget? uang parkir di medan itu cuma seribu non...
Melda: nggak apa2 deh...ambil aja!
Tukang Parkir: wah..makasih deh! eh...tadi ngomong2 aku kemari naik apa?
Melda: becak!
Tukang Parkir: ya....kurang dong ini...tambahin 10 ribu lagi ya...?
Rani: ya udah...nih 10 ribu....
Tukang Parkir: makasih ya...aku pulang ya....
Rani: yessss....berhasil....udah... sekarang kita tunggu si tukang boneka datang...
Melda: itu dia...ayo buruan kita samperin...sebelum dia ketemu ama orang tua kamu
Rani: ok...siap...langsung siram ya?
Melda: iya...sekarang...
PTB: apa2an nih main siram2 segala? nggak ada sopan2nya...
Melda: lha...abang kemari mau ngapain?
PTB: aku mau ambil boneka yang kemaren kau ambil...
Melda: ih...kan abang yang kasih!
Rani: udah...nggak apa2...entar aku ambil aja... nih bang bonekanya!
PTB: ha...lain kali...kalau nggak punya duit...jangan sok2an beli boneka ya!
Rani: ah...selesai 2 masalah...tinggal kita telepon si Feri suruh datang aja...

instrumentalia

Feri: ada apa sih sayang...baru juga tadi kita ketemu...kangen ya?
Melda: udah...langsung siram!
Rani: ehm...iya..iya...
Feri: lho...apa2an ini? kok aku disiram? oh...kamu kesal ya karena cinta kamu aku tolak dulu? sadar diri dong! kamu tuh nggak pantes sama aku!
Rani dan Vera: Yessssss berhasil....berhasil....
Rani: eh...ada 1 lagi nih yang harus diselesaikan...tapi kayaknya besok aja deh...
Melda: siapa?
Rani: itu...si feri...inget nggak yang aku nubruk orang sampai bukunya berserakan?
Melda: oh...itu...iya inget
Rani: dia juga namanya Feri...dan dia suka sama aku...tapi itu aku urus besok aja deh!

lagu

Melda: yang mana sih orangnya aku lupa2 ingat wajahnya...
Rani: itu...yang lagi duduk baca buku di bangku taman itu...
Melda: keren juga tuh cowok! apa kamu nggak mau pikir2 dulu?
Rani: ah nggak! cinta itu harus tulus! nggak boleh dipaksa2...harus dari hati...bukan dari hal2 gaib!
Melda: ya udah...yuk kita samperin...
Verry: astaga...Rani...kamu kenapa siaram aku?
Rani: giman? marah?
Verry: nggak...kalau kamu merasa itu membuatmu senang...aku nggak apa2 kok!
Rani: kamu nggak marah?
Verry: marah? karena kamu sudah punya pacar? ya nggak lah! cinta itu sudah ditentukan pada siapa2 yang akan memberi dan menerima...walapun aku cinta mati sama kamu tapi kalau kamu bukan jodohku...ya nggak bisa dipaksa juga!
Rani: kamu masih suka sama aku?
Verry: Rani....kamu itu cinta pertamaku...dari kamulah aku mengenal apa itu arti cinta. walaupun kala itu kita masih smp...tapi...perasaan cinta itu bisa datang pada siapa saja...tak mengenal usia...
Melda: Ran...kayaknya ada yang salah deh! nama kamu Feri kan?
Verry: iya...Very...Vi ..i..ar dan wai...Very yang berarti sangat...Very Kurniawan...yang berarti lelaki yang sangat dikaruniai...
Melda: bukan Feri pake F?
Verry: bukan...emang kenapa sih? ada yang salah?
Melda dan Rani: ah...nggak...nggak kok...
Rani: (berbisik)Mel...apa ini memang jodohku ya?
Melda: (berbisik) kayaknya sih...
Rani: Ver...Sori...waktu itu...aku bilang...aku sudah punya pacar...padahal...sebenarnya...
Melda: Rani belum punya pacar!
Verry: jadi...aku masih berkesempatan menjadi pacar kamu?
Rani: ehm...
Melda: iya...masih...sebenarnya...dari dulu...Rani suka sama kamu...kamu maukan menerima Rani...
Verry: tentu...Rani adalah cinta yang selama ini kucari...
Rani: kamu serius Ver?
Verry: aku serius...aku cinta kamu Ran...cinta ...banget sama kamu...
Rani: ah...Verry  aku juga cinta kamu...
Melda: ih...gini nih....Indonesia banget! khas sinetron...selalu hepi ending nggak jelas...pake tampar2 dulu kek....





Cinta Yang Terabaikan (ketulah)



Dearest Vira ,

Apa kabar sayang?
Aku sungguh terkejut saat kamu mau membalas suratku. Walaupun aku bertanya-tanya,"ini untuk balasan suratku yang mana?" :D
Aku tidak menyangka kamu mau meluangkan waktu untuk menulis surat untukku, kendati aku yakin kamu pasti sangat sibuk sekali, seperti dulu...
Aku yakin saat kamu menerima surat ini, kamu baru sampai di rumah. Kamu langsung masuk kamar, melemparkan tasmu di atas tempat tidur dan langsung mengoyak sampul surat ini. Kamu terduduk di pinggir tempat tidur dengan senyum mengembang. Kemudian kamu rebahan dengan membayangkan wajahku.
Pada saat kamu membaca alinea ke dua suratku, seseorang akan mengetuk pintu kamarmu sembari berteriak,"Vira, nggak makan dulu?" dan sudah bisa aku tebak kalau kamu akan bilang,"iya...bentar lagi, ma!"
Vira sayang...
Ini adalah tahun ke dua aku jauh darimu. Ribuan kilo meter jauhnya jarak yang memisahkan kita. Yang tentu membuat aku kerap berharap untuk suatu pertemuan. Membayangkan hari-hari dapat bertemu seperti dahulu saat kita dekat, sedekat hati kita.
Kamu masih ingat kapan aku jauh darimu sebelum ini? Kalau kamu lupa, aku akan mencoba mengingatkannya.
Kita pernah berjauhan saat aku harus menghadiri pesta perkawinan kakak pertamaku di tebing. Padahal aku pergi hari sabtu sore dan pulang minggu malam. Hanya 1 malam, namun itu sudah sangat menyiksamu. Kamu kerap berpesan agar segera pulang, walaupun sebenarnya kamu berat sekali mengijinkanku pergi sebelumnya. Sepertinya Malam minggu tanpa diriku seperti berpuluh-puluh tahun. Andai saja aku bisa memilih saat itu, tentu aku lebih memilih untuk malam minggu bersamamu.
Vira sayang...
Aku masih menyimpan gelang kayu cendana yang dulu pernah kamu pakai dan terburai saat kamu mencoba melepaskan genggaman tanganku. Saat itu aku mencoba meminta maaf padamu atas kesalahanku yang telah membuat Edo marah kepadamu sehingga kalian tidak akrab lagi. Tanpa kamu ketahui, aku mengutipnya dan menyusunnya kembali. Aku suka wanginya, seperti aroma tubuhmu melekat di sana. Aku kini yang memakainya.
Kamu masih ingat gelang itu berasal?
Kita membelinya dari seorang penjaja uang lama dan barang antik. Ntah kenapa saat itu aku merasa bahwa gelang itu akan indah di tanganmu. Dengan harapan kelak tangan itu akan berada di dadaku. Mengelus hatiku yang rapuh.
"kalau mau belikan cewek gelang, harusnya gelang emas! Bukan kayu!" katamu mengejek saat aku mengenakannya di tanganmu. Aku saat itu hanya tersenyum dengan candaanmu.
Oh iya, Vira sayang...
Siapa nama teman Vira yang dulu kita datang ke pesta perkawinannya? Aku lupa. Bagaimana kabarnya? Apakah ia sudah mempunyai anak dari pernikahannya? Semoga mereka bahagia.
Aku masih ingat ucapannya saat kita menyalami mereka di pelaminan. "kapan nih menyusul?" katanya seraya memandang ke arahku untuk memastikan jawabanku.
"nyusul apa? Kawin? Ntarlah kalau udah dapat laki-laki yang kaya!" katamu bercanda. Aku kembali tersenyum dan mengusap-usap rambutmu dan kemudian kamu menampik tanganku.
Vira sayang...
Sebelum aku mengenalmu, aku belum pernah merasakan rasa suka yang teramat-sangat kepada seorang wanita. Kalau itu cinta, maka kamu yang telah menyematkan benih cinta itu kepadaku. Sebuah benih yang terus-menerus tumbuh di hatiku hingga menimbulkan hasrat untuk memilikimu. Bagiku kamu adalah satu-satunya wanita yang akan bersanding denganku hingga saat kematianku. Mata dan hatiku terbelenggu padamu hingga tak ada sedikit niatpun untuk memberikan sebahagian kecil dari cintaku kepada yang lain. Tidak, sesekali tidak. Bagiku kamu sudah mewakili wanita yang aku harapkan hadir di dunia ini untukku. Dan keyakinanku semakin tumbuh saat kita sering bersama dengan kisah-kisah yang kita jalani. Kamu lebih dari sekedar bidadari.
Vira sayang...
Kamu adalah wanita pertama yang membuatku jatuh cinta. Wanita pertama yang mengisi hari-hariku menjadi lebih indah dari sebelumnya. Wanita yang membuat matahari seakan tak mau berhenti menyinari meski kelam menyelimutiku. Aku tak pernah sendiri dan merasa sepi karena kehadiranmu di sisiku seolah menghadirkan alunan lagu dalam imajinasi hingga aku mengawali hari-hariku dengan suka-cita dan penuh gairah.
Vira sayang...
Aku sudah membaca surat yang kamu kirimkan padaku. Maaf bila lama aku baru membalasnya. Aku menyusun kata-kata yang aku harapkan bisa sesempurna tulisanmu. Ini adalah surat yang sudah kesekian kalinya dari surat-surat yang pernah aku coba buat untuk menjawab suratmu. Tong sampahku penuh dengan kertas-kertas dengan tulisan yang menurutku tak pantas aku kirimkan untuk orang sepertimu. Bidadariku...
Vira sayang...
Andai saja kamu tak pernah melayangkan surat untukku, tentu aku tak segundah seperti saat ini. Aku tersenyum saat membaca tulisanmu yang menanyakan "masihkah ada harapan untuk kita bersama?"
Aku takut mengartikan arti kalimat itu. Seperti yang sudah-sudah, kamu suka bercanda.
Namun entah mengapa, gundahku seperti tak berkesudahan. Ada perasaan rindu yang bergelut dengan mengabaikan. Kamu tak akan pernah bisa membayangkan apa yang kurasakan. Tak henti aku membuka-buka poto-poto kita yang masih kusimpan.
Vira sayang...
Saat aku memandangi poto kita berdua, baru aku tersadar betapa berartinya dirimu untukku. Kamu yang telah mengajari aku banyak hal, memberi motivasi bagaimana aku harus mengejar cita-cita dan hidup lebih baik.
Kamu selalu memintaku untuk mencontoh abang iparmu yang hanya dengan sedikit bantuan orang tuamu, ia telah sukses. Ia berhasil dengan bisnis propertinya dan kaya-raya. Itu karena ia memang sosok pria yang diidam-idamkan banyak wanita, dan kamu menginginkan aku seperti itu. 
Aku selalu mengingat itu. Aku mencoba mengejar cita-citaku agar hidupku lebih baik dari sebelum-sebelumnya, hingga saat ini aku harus berkutat dengan setumpuk pekerjaan demi kesuksesan yang aku idam-idamkan, atau yang kamu inginkan dariku.
Vira sayang...
Kamu juga mengajari aku bagaimana aku harus bersikap sebagai laki-laki sejati. Kamu mengajari aku bagaimana aku harus menghentikan tindakan semena-mena kakakku yang selalu saja mencampuri urusan kita. Hingga akhirnya kini ia telah menerimaku sebagai seorang adik yang mandiri yang tak perlu campur-tangannya setiap saat karena hanya  doa yang harusnya ia panjatkan  untukku.
Vira sayang...
Tentu kamu masih ingat si Sinta. Cewek gendut yang duduk di bangku depan yang selalu kamu bilang caper dan munafik? Tentu kamu masih ingat, kan? Karena setiap saat kamu selalu mengejekku bahwa Sinta adalah wanita yang pantas menjadi pendampingku kelak. Kamu sangat membencinya, dan aku juga. 
Aku begitu risih dengan sikapnya yang selalu cari perhatian dariku. Banyak sekali hal-hal yang dibuatnya untukku agar aku tertarik dengannya.
Pada saat ia berulang-tahun, kita malah pergi berdua jalan-jalan. Kita sengaja untuk tidak hadir di pesta ultahnya.
Betapa marahnya ia padaku saat kamu mengatakan padanya bahwa kita sengaja pergi jalan-jalan agar tidak datang ke pestanya. Ia membenciku. Tapi bagiku merupakan suatu anugrah agar aku selalu dekat denganmu, agar ia tau bahwa aku telah memilikimu. Walaupun kamu terus-terusan mengejekku agar aku menerima cintanya.
Vira sayang...
Saat-saat bersamamu adalah saat yang paling indah yang pernah aku rasakan. Aku tidak akan membuangnya dalam ingatanku sedikit jua, karena bagiku semua itu adalah cerita yang indah yang tidak setiap orang memilikinya.
Vira sayang...
Aku yakin kamu telah mengetahuinya bahwa aku akan menikah. Bila kamu baca suratku sebelum ini, aku kerap berharap kamulah yang menjadi pendamping hidupku. Hingga saat ini, terutama saat aku membaca suratmu yang menginginkan aku kembali padamu.
Kami memang belum mengabarkan hal ini secara resmi karena kami mencoba untuk mempersiapkan segala-sesuatunya terutama hati. Karena bagaimana mungkin hati  kami akan menyatu bila sebagian lain bertaut pada bayang-bayang masa lalu.
Dia bukan seorang wanita yang memenuhi rasa suka dari laki-laki di dunia ini. Termasuk aku. Semuanya serba biasa, tak ada yang istimewa. Bahkan sempat aku bertanya dalam hati,"apa sebenarnya yang membuat aku berkeinginan menikahinya?"
Awalnya aku berpikir bahwa ini adalah pelampiasan dari rasa kecewa yang dalam. Dari sesuatu yang hilang di masa lalu dan ingin kususun kembali pada hatiku yang terburai saat engkau mencoba melepaskan dan mengabaikan apa yang pernah kita ikrarkan.
Lama aku berpikir akan hal ini. Aku khawatir akan menyakiti hatiku sendiri dan hatinya karena cinta tak pernah ada di antara kami meski kisah-kisah telah kami jalani. Bagaimana mungkin aku menikah tanpa cinta?
Vira...
Akhirnya aku menemukan jawaban. Ternyata dalam pernikahan tidak harus cinta yang diutamakan. Seseorang yang mau aku nikahi adalah lebih dari cukup untuk seorang laki-laki yang patah hati.
Dia sangat biasa. Namun cintanya padaku sangat luar biasa. Mengalahkan ketidak cintaanku padanya. Egoku luluh seketika, berganti dengan hasrat untuk ingin terus bersamanya sampai kapan jua hingga maut yang berbicara.
Dia menciptakan penyejuk pada diriku yang penuh dahaga atas dirimu yang dulu enggan mempertahankan janji setia yang kita ucap bersama hanya karena aku terlalu banyak salah dan kekurangan di matamu.
Aku bukan laki-laki sempurna yang dapat membuatmu bermanja-manja, bukan laki-laki yang membuatmu terus merasa bahagia bersamaku. Hingga hasratmu untuk mempertahankan ikrar itu runtuh. Aku sungguh memaklumi itu, hingga kuputuskan untuk menjauh. Karena seberapapun aku berusaha, sebanyak itu pula keinginanmu atas diriku bertambah. Hanya menyerah yang dapat membuatmu lega hingga kamu dapat melontarkan hina.
Aku lelaki biasa yang sama biasanya dengan wanita yang akan aku nikahi. Kami ditautkan oleh serba biasanya kami. Tapi dalam serba biasa itu, kami mencoba menyusun hati  kami bersama untuk mempertahankan apa yang harus kami pertahankan. Di situlah sesuatu yang darimu tak pernah aku dapatkan.
Vira...
Aku pernah merasakan bagaimana sakitnya diabaikan. Aku tak ingin membuat orang yang mengenalkan cinta padaku untuk merasakan rasa sakit itu. Aku ingin dia bahagia. Aku ingin kamu bahagia, vira...
Kamu wanita yang sempurna di mata laki-laki manapun di duni ini. Tak akan ada laki-laki yang berani menafikan bayang-bayangmu dalam tidurnya setelah kamu mengatakan cinta.
Namun tak ada laki-laki yang terus berharap bayang-bayangmu dalam mimpinya. Mereka ingin memilikimu seutuhnya, bahkan saat ia membuka mata.
Kita memang bukan untuk dipersatukan di dunia ini. Memaksakannya hanya akan membuat segalanya menjadi semakin menyakitkan pada hari-hari yang akan kita jalani.
Tidak ada yang salah di antara kita. Campur-tangan Tuhanlah yang membuat segalanya menjadi seterang langit siang. Kita bukan pasangan yang diinginkan Tuhan.
Vira...
Kita hentikan surat-menyurat ini. Jangan hiraukan lagi gundah yang aku alami. Jangan pertanyakan lagi harapan-harapan padaku yang telah memilih.
Kamu akan mendapatkan lebih dari yang kamu harapkan dariku. Percayalah...
Vira...
Ribuan kilo jarak yang memisahkan kita, bukan berarti aku lupa segala yang pernah kita alami bersama. Namun untuk mengenangnya yang mungkin aku tak bisa karena kini aku mempunyai kisah sendiri dengannya, dan aku takut lupa...

"Love, it doesnt mean love without love"


Balikpapan, 11 Agustus 2003

Dimas Bintara dan Sinta Rajudin



 

Pihak Sponsor Yang Kecewa Saat Pernikahan Rafi dan Nagita


Saat pernikahan Rafi Ahmad dan Nagita Slavina, banyak pesohor negeri ini yang hadir untuk menyaksikan perhelatan tersebut. Entah karena memang kerabat dekat atau mungkin juga ingin jadi bagian dari penomena “Kawin Sponsor”.
Sebut saja Dahlan Iskan yang hadir bersama istri.
Dalam tayangan sebuah televisi, bapak Dahlan Iskan dan Istri mendapatkan souvenir berupa teplon dari pihak sponsor berlabel Maxi. Teplon seharga 47.500 itu menjadi souvenir bagi tamu-tamu yang hadir.
Pihak Maxi cukup beruntung karena produknya bisa secara langsung dipamerkan atau diketahui oleh umum sehingga tujuan promosinyapun tercapai.
Lantas bagaimana dengan sponsorship produk lain?
Ternyata, banyak yang kecewa!
Siapa saja mereka? Yuk dibaca!
  1. GT Man dan Triumph.
Merk Under Wear ini sangat kecewa karena produk mereka yang seharusnya menjadi souvenir bagi tamu-tamu yang hadir di acara tersebut batal. Pihak management Rafi Ahmad tidak bersedia bila setiap tamu diberikan ‘Sempak’ atau ‘BH’. Walhasil, produk mereka hanya dipakai oleh Rafi Ahmad dan Nagita Slavina saat acara siraman. Walaupun tidak kelihatan secara jelas, tapi yakinlah bahwa mereka menggunakannya.Sakit

2. Maspion dan Lion Star
Merk produk yang terbuat dari plastic ini juga kecewa. Pasalnya, produk mereka yang seharusnya menjadi pernak-pernik atau hiasan di ruangan acara, mulai dari baskom, piring sampai tudung saji, dibatalkan. Produk mereka yang dapat ditampilkan hanyalah gayung saat acara siraman. {#smileys123.tonqueout}


3. Kondom Sutra.
Wah, pihak sponsor ini lebih kecewa lagi. Balon warna-warni yang menjadi hiasan pesta seharusnya menggunakan produk mereka. Namun dikarenakan bentuknya yang kurang etis maka produk ini hanya dipakai Rafi Ahmad saat malam pertamanya. Tidak dapat dipastikan apakah diliput atau tidak oleh pihak televise tapi manajer Rafi Ahmad berjanji akan menampilkan Rafi Ahmad memakai produk tersebut.Senyum Lebar

Manisnya Rafi Ahmad Dibanding Yuni Shara (Nah Lho?)


waktu itu aku buru2 ke bandara mau ke jakarta. belum sarapan dan uang dikantong pas2an. lapar perutku. aku berdoa,"Tuhan, kasih aku makanan.."
ternyata, doa orang yg lapar itu didengar. pesawat delay 3 jam dan akupun dapat makan gratis dari maskapainya.
waktu dicabin,spy nggak kelihatan baru pertama kali naik pesawat, akupun baca2 majalah yg ada di sana. eh, tiba2 disebelahku ngomong gini,"masih majalah yg dulu ya?"
busyet...aku malu banget, ketahuan kl aku baru pertama naik pesawat itu. tp aku nggak kehabisan akal, aku bilang,"iya nih...cuma kemaren ada produk menarik,lupa mau belinya"
eh, dia ngomong lagi,"yg mas pegang itu majalah,katalognya yg ini.." alamak....
Tiba-tiba ada mbak2 bawa sorongan nanyain,"chicken or fish?"
ih, dikira aku gak bs bhs inggris,"no thanks..."
cari duit banget pesawat ini. jualan pun di peswat.
yg disebelahku sok orang kaya,"saya ikan aja mbak sama jus apel"
aku ngitung2 duitku, ah...pasti gak sampai 100 ribu. aku nanya ke sebelahku,"emang tadi gak sarapan ya?"
dia bilang,"ya sarapan...cuma kan gratis...lumayan..."
what? gratis? "mbak, saya pesan nasi pake ikan trus ayamnya dikit aja...kurang suka kl digulai. jusnya timun parut aja ya..."
habis makan, sendok, garpu dan pisaunya aku simpan. buat pamer ke tetanggaku. dari stailess soalnya...
eh, dasar pelit...diminta lagi.
"mbak...maaf, tadi sendoknya kena dahak dikit. maklum batuk..."
si mbak sedikit bergidik. tp bukannya dikasih, malah suruh naruh sendiri. issss...amit2.
kuburannya pasti sempit!
sampai di jakarta...pas mau ambil bagasi...yg td duduk disebelahku nanya,"mas, itu yuni shara kan?"
aku kaget,"oh iya...ih manis banget ya yuni shara...bibirnya merah, kulitnya putih...ih, cantik banget...cocok dia pake baju hitam2."
yg disebelahku ngomong,"mas, yuni shara itu yg pake baju hijau! yg pake baju hitam itu pacarnya!"
aku makin kaget,"apa? itu pacarnya? jadi yuni shara itu lesbian?"
"bukan! itu pacarnya...rafi ahmad!"
astaga...manis banget rafi ahmad...emang kl manis sama manis nggak jodoh. kl ganteng kayak aku ini baru jodoh sama yg manis....call me...call me rafi...

Traveling on Sad



Tadi malam aku nyampai di Medan diiringi hujan deras. Pesawat Lion yg kutumpangi sempat anjlok shg membangunkan tidurku. Aku berusaha tidur lagi agar kl terjadi apa2, aku dlm posisi tidur. Jd gk ngerasain sakit kl toh ajal menjemput.
Tp mata gk mau terpejam. Justru serrr2an jantungku. Aku baca2 doa dan kalimat syahadat beberapa kali dan mohon ampun atas dosa2ku terutama kesombonganku.
Pesawat landing dg mulus. "Thx God!"
Krn gk ada bagasi, aku langsung keluar menyusuri koridor. Beda jauh dg bandara Husein Sastra Negara Bandung yg nggak matching banget dg kota bandungnya sendiri. Kumuh dan sumpek. Kok gak malu lah orang Bandung, kupikir.
Aku disambut pejaja Taxi (tkg nawar2i taxi). "Gk bang! Aku dijemput!" Kataku dg keras. Tp tetap aja mereka gk perduli. Nyebelin banget!
Andai saja bandara Kuala Namu kyk bandara Changi Singapore yg tertutup, pasti asyik. Gk ada semerawut ini.
Sampai aku dudukpun tetap ditawari Taxi, Damri sampai ALS. Dan yg lebih ngeselin, ditawari nasi bungkus. "Haloooo nasi bungkus? Emang lu gk lihat apa tas laptop gue yg isinya laptop Lenovo 16 jutaan dan Ipad? Nawari nasi bungkus? Sembarangan!"
Aku telepon adikku minta dijemput, biar supir taxi gelap segelap badannya denger bhw aku memang bener2 dijemput. Aku sengaja speakerin biar dia dengar dan lagian kan hujan, jd punya alasan gak denger suaranya pas teleponan bukan maksudnya pamer.
"Wan, tolong jemput! Aku udah landing! Buruan! Naik Inova aja, ya!" Kataku.
Tiba2, seperti guntur yg menggelegar, adikku bilang,"bensinnya habis!"
Lgsg aku cepat2 tutup teleponnya dan berharap supir taxinya gak denger.
Aku sms adikku dg posisi hp agak rapat ke dada biar nggak terlihat si supir taxi yg setia menawari di sampingku.
"Pinjem ama mami aja! Nanti gajian kuganti!"
Gak berapa lama, dapat sms balesan,"mami gk mau. Yang 950 ribu aja belum diganti!"
Alamaaak. Aku sms lagi mohon2 supaya dijemput. Dan lega banget bgt dapat balasan,"ya udah tunggu lah!"
Aku melirik tukang taxi dan tukang nasi. Aku tersenyum puas.
Aku mengira2 uang di kantong kanan celanaku. "Tadi ada 65 ribu. Bayar airpotax 25 ribu, tinggal 40 ribu. Makan pop mie 15 ribu berarti tinggal 25 ribu. Ah, cukuplah untuk beli roti boy!"
Akupun masuk ke dalam. Tp sampai depan roti boy, aku khawatir, takut perkiraanku salah. Aku kepojokan dekat ATM Centre. Mengeluarkan isi kantongku. Lembaran uang yg kumel bercampur dg kertas bon2 lainnya. Aku terpaksa misahin satu per satu. Aha! Ternyata ada 32.000. Ada uang 2 ribu kertasnya 3 dan uang 1000 logam. Mungkin kembalian2 tadi malam.
Akupun segera ke roti boy. Aku pesan 3, jadi 28.500 krn 1nya 9500. Eh, si embaknya malah nawari," apa nggak 4 aja pak? Biar nggak ada kembaliannya 500 lagi?"
Ih, suka2 aku lah! Sibuk kali jadi orang! Ngatur2 aku pulak! Siapa elu?
Setelah beli roti boy, akupun keluar. Tetap aja ditawari taxi dan nasi bungkus.
Aku duduk, sambil makan roti dan main sudoku di ipad. Biar kelihatan orang kaya gitu.
Gak terasa, udah lebih 1 jam. Tukang taxi makin antusias nawari aku. Akupun telepon adikku lagi,"gimana? Bisa jemput apa nggak?"
Eitdah! Jawabannya bikin lemes,"kekmana mau jemput? Bensinnya udah rest kali! Mami gak mau minjemin. Disuruh naik taxi aja!"
Aku ngomel2 sejadi2nya. Aduh, gimana nih?
Dengan berat hati aku tanya tukang taxinya,"berapa ke cemara2"
"180 ribu!" katanya dg gaya songong.
"Mahal kali! Cepek lah!" Kataku dg nada keras. Tapi dia tetep keukeuh gak mau kurang.
Aku mondar-mandir lihat kanan kiri, siapa tau ada yg kenal.
Tiba2, aku ketemu dg seorang cewek yg berdiri dg barang2 ditroley. Wajahnya gak asing.
"Lagi nunggu dijemput ya Ver?"
"Eh, bang Rudi! Iya bang! Tapi katanya jalan tol macet total. Ada kecelakaan beruntun!"
"Oh, memang iya! Makanya aku gak dijemput. Tadi aku juga minta dijemput. Naik taxi aja yuk!"
Dia menerima tawaranku dan kemudian menelepon seseorang.
Aku berusaha cari yang lain lagi untuk naik taxi barengan biar bisa bagi2. Tapi gak ada. Ya udahlah, akhirnya kami berdua aja naik taxi yang akhirnya jadi 150 ribu. Ntar kalau udah sampai rumah emakku, kalau pinjem 75 ribu pasti gak berat banget. Moga2 dikasih.
Ditengah jalan, aku mikir. Ini cewek tau nggak ya maksudku kalau nanti bayarnya share alias patungan? Aku malu mau nanyanya. Aku muter otak, gimana caranya.
Aha...dapet ide! Aku suruh aja supir taxinya nganter dia ke rumahnya dulu. Moga2 aja dia bayarin semua. Jadi aku gak mesti nanya2 lagi.
"Bang, ke cemara aja dulu anterin dia ini!"
"Lho, memangnya bang Rudi tinggal di mana?"
"Oh, aku di Bandar Setia!"
Pfueh! Ide cemerlang!
Taxi pun nganter dia dulu ke lorong 3 jl cemara. Aku bantuin nurunin tas2 bawaannya dibantuin suaminya yang udah nunggu.
"Makasih ya bang Rudi?" Kata cewek itu diiringi senyum ramahnya dan suaminya.
What? Terimakasih doang? Ehm....lemes aku!
"Kita ke Bandar setia ya Bang? Tambah 20 ribu lah bang! Kan tadinya bilang ke cemara aja!l kata supir taxinya.
"Nggak! Kita ke lorong 2 aja!"
Begitu sampai depan rumah emakku, aku langsung turun,"bentar ya bang!"
Aku gedor2 rumah emakku yg udah tutup dan lampu mati. Emakku muncul diiringi adik2ku.
"Mi, pinjem duitnya cepek limpol dulu lah! Aku belum bayar taxi!"
Sontak adik2ku marah."Kan betol kan! Jangan kasih Mi!"
Astaga, jadi ini semua ulah adik2ku? Aku yakin kl emakku gak sepelit itu. Arrrggghhhh!
Emakku langsung ke kamar dan ngambil duit. Aku langsung memeluk dan mencium emakku sambil ngejek adik2ku. Wueeeeek!!!!
Jam 11 siang tadi, aku dapat sms dari temen,"Rud, udah kutransfer ya! Makasih sebelumnya! Sori kelamaan balikinnya soalnya macet pembayaran nih!"
Akupun langsung ke Indomaret untuk ngecek saldo di ATM. Thx God! Udah terisi. Aku segera tarik tunai untuk bayar ke emakku dan tak lupa kutambahin limpol. Baik kan aku?