Kamis, 30 Oktober 2014

No Body's Perfect


Aku bertanya-tanya siapa orang yang bakal duduk di sebelahku. Tiba2 muncul seorang lelaki dengan baju kotak2 warna biru. "penampilan yang umum," pikirku. Tinggal tambah kacamata hitam, komplit sudah keumumannya.
Dia membawa tas sandang besar yang sarat isinya. Dia terus mendekap tas itu.
"tasnya letakin di bagasi di atas!" perintahku.
"oh, maaf. Ada tempatnya ya?" katanya sambil bergegas berdiri untuk meletakkan tasnya.
Tak lama, dia balik lagi. Kali ini dia memijak sepatuku. Aku mengusap-usap sepatuku yang dipijaknya.
"maaf, pak. Nggak sengaja!" katanya dengan segan. Aku tidak mengopeninya. Aku asik dengan Ipadku.
"memang boleh ngidupin HP di pesawat,pak? Kalau dari yang saya baca, katanya nggak boleh!"
"ini bukan HP. Ini Ipad! ini sudah di Flight Mode!"  kataku tanpa menoleh ke arahnya. Aku terus bermain game Sudoku.
"itu kayak angka togel ya?" tanyanya lagi. Aku tak menggubrisnya. Dia terus memandangi aku bermain sudoku.
"bapak mau ke jakarta ya?"
"nggak! Nanti di perempatan saya turun!" kataku ketus.
"maksudnya?"
"ya lihat aja boarding passnya! Jakarta kan? Memang ada alternatif turun dimana lagi? Pasang sabuknya!" kataku ketus lagi. Dia terus berusaha mencari-cari sabuknya. Dengan kesal aku membantunya dan memasangkannya. Dia menarik nafas lega.
"saya baru kali ini naik pesawat," katanya lagi. Ehm... seperti yang sudah kuduga. 
"bapak ada urusan apa ke jakarta?" dia bertanya lagi.
"its not your business!"
"oh...bisnis. Kalau saya ada keluarga yang pesta. Nggak enak kalau nggak datang. Dia sepupu saya. Dia minta saya datang, ya...karena dikasih sama Tuhan rejeki, ya saya datang," dia terus nyerocos sementara aku tetap bermain sudoku.
"saya Herman, pak!" katanya memperkenalkan diri. Aku pura2 nggak dengar dengan seakan berpikir memecahkan sudoku.
Dia mengambil majalah namun kemudian menggantinya lagi dengan buku petunjuk pesawat. 
"pesawat yang kita naiki sekarang yang mana,pak?" tanyanya sambil menunjukan gambar jenis2 pesawat. Aku menunjuk sekenanya dengan tangan kiriku.
"oh, yang ini. Ini terbesar kedua lho pak. 737-900 ER." dia membaca serial pesawatnya.
Tiba2 dia menyentuh lengan kiriku. Dia memberi isyarat agar aku menoleh kepada pramugari yg sedang membagikan permen. "sexy ya pak? Kayak angel karamoy! Bersih!" katanya lagi. Aku menoleh tanpa memberikan ekspresi.
"suka yg kayak angel karamoy pak?" tanyanya lagi. Aku tetap konsen dengan sudokuku.
 "kalau luna maya,pak?" aku tetap tak bergeming.
 "ehm...pasti bapak suka kris dayanti! Ya kan?" aku masih tak bergeming.
"olga syaputra suka, pak?" katanya sambil senyum2. Aku menoleh dengan wajah sangat kesal.
"duduk di situ aja, kosong! Sebenatar lagi take off, kamu bisa lihat2 dengan jelas dari situ! Baru pertama kan?" kataku sambil menunjuk bangku kosong dekat jendela.
Dia kemudian beranjak pindah. Namun tersangkut sabuk yg masih dikenakannya. Dia berusaha membukanya.
Pesawat sudah akan take off. Dia memjamkan mata. Tangannya menggenggam erat pegangan kursi. Mulutnya komat-kamit seperti berdoa. Saat pesawat sudah pada posisi aman, dia mulai melihat keluar jendela. Merapatkan wajahnya ke kaca jendela dan menoleh kesana-kemari.
"ngantuk pak?" tanyanya saat melihatku mengucek2 mataku. Aku tidak menjawab. "kalau main itu aja,pusinglah nati, pak!"
"nggak! Saya cuma ngantuk!" jawabku.
"ya tidurlah,pak!" 
"saya nggak mau tidur! Dan mungkin gak akan bisa tidur!" jawabku. Itu karena ada kau, kataku dalam hati.
"kalau gitu, saya ada cerita lucu!" katanya. Oh no! cerita lucu apalah yang bisa kau berikan untukku. Aku diam aja, tidak memberikan persetujuan. Tapi dia cerita aja.
"jaman dahulu kala..." katanya membuka cerita. Ah, kalimat usang yang sudah lama tak kudengar.
"ada istri raja yang akan ditinggal pergi. Supaya tidak terjadi hal2 yg tdk diinginkan..."
"dikasih silet kan?" huh...1926!
"iya!" dia tertawa terkekeh. "bapak udah tau? Lucu ya?"
Aku diam aja tak memberikan respon.
"kalau cerita tentang penunggang unta, udah tau pak? Belum kan?" 
"udah...udah...!! Saya mau tidur aja!" jawabku dengan terpaksa daripada mendengrkannya nyerocos terus.
"tidurlah,pak! Biar saya yg jaga!"
Jaga apaan? Kau kira, aku butuh babby sitter?
Belum lagi aku benar2 terpejam, suara dengkuran membuatku terusik. Dia malah yg tertidur dengan menyandarkan kepalanya di bahuku. Arrrggghhh...
Dengan tangan kananku, aku mendorong kepalanya. Kemudian aku mengusap2 tanganku ke celana karena rambutnya yg sangat berminyak.
Tiba2 dia terbangun. "udah nyampe pak?"
"belum! Masih 1 jam lagi!" jawabku dengan kesal.
"udah sampai dimana sekarang kita pak?"
Aku tidak menjawabnya. Kau kira ini naik bus!
"Bandung udah lewatlah ya pak?"
Arrrgghh....pertanyaan macam apa itu! Aku benar2 sebel!
Tiba2 dia mengeluarkan dompetnya. Mengambil sebuah poto. Dia menunjukannya kepadaku. "Ini poto istri dan anak2ku, pak!"
Dengan malas aku mengambil poto itu. Seorang wanita gemuk dengan 2 orang anaknya.
"cantik istri saya ya,pak?" tanyanya. Aku tidak menggubrisnya. Cantik? Survey dari mana?. "kami ketemunya waktu sama2 kerja di Pajak ikan lama. Saya kerja di Moris Textil, istri saya kerja bantu2 jualan es buah bapaknya. Sampai sekarang mertua saya masih jualan di sana. Kalau sempat, singgahlah! Esnya enak,pak! Laris aja tiap hari. Dia satu tempat sama tukang sate." kenangnya. Entah kenapa kali ini aku berminat mendengarkannya.
"waktu itu saya disuruh bos saya untuk beli minuman. Saya belilah di sana. Kebetulan dia yang jualin karena bapaknya lagi sembahyang. Saya perli2 dia,pak. Eh, dia ngelawani saya. Saya yakin kalau dia suka sama saya. Sejak itulah kami terus akrab." dia memandangi poto yang dipeganginya.
"rumah dia di mandala, sedang rumah saya di helvetia. Jauh kan pak? Tapi tiap malam minggu saya datang. Dulu saya belum punya kereta, jadi naik angkot kemana-mana. Saya sering ajak dia jalan2, paling sering ke simbahe. Mandi2. Kalau minggu dia nggak jualan,pak! Jadi kami kalau minggu sering jalan-jalan."
"waktu kami mau nikah, saya di PHK sama bos saya. Dia mau pindah ke Siantar katanya. Rukonya ngontrak kalau di situ, tapi kl di siantar punya dia sendiri. Baik sebenarnya bos saya itu. Saya dikasih pesangon 600 ribu. Langsung saya beliin cincin. Namanya perempuan, paling senang kalau dibeliin emas kan,pak?"
"pas kami menikah, yang dateng sedikit karena hujan lebat dan rumahnya banjir. Kata orang pertanda buruk, tapi saya nggak percaya. Ya, amplopnya memang dapet sedikit juga! Tapi yang penting bisa untuk bayar sisa utang," dia tertawa.
"habis menikah kami tinggal di rumah saya bareng keluarga saya. Biasanya saya sekamar sama adik2 saya karena cuma ada 2 kamar, jadi kamar itu kami tempati. Adik2 saya tidur di ruang tamu. Karena itu kamar lajang dulunya, tempat tidurnya gak ada. Jadi satu sama pisang2. Bapak saya tukang ambil pisang mentah trus diperam sendiri. Kalau udah mateng baru dijual. Susah punya anaklah kami kalau kamarnya kayak gitu.  Nggak konsen kalau mau 'ngambil' karena banyak pisang. Apalagi adik saya yang perempuanpun kadang tidur sama kami." dia tertawa lagi.
"saya bantu2 jualan pisang bapak saya. Eh, kok kebetulan Kek Sugeng adik nenek saya nawari saya kerja di perawang pekanbaru. Ya saya mau lah. Saya manggilnya kakek, tapi umurnya masih muda. Tuturnya aja begitu."
"di perawang saya kerja deres sawit. Kami dikasih rumah tapi gabung sama yang lain juga. Ada 2 orang yang sudah menikah. Untungnya belum punya anak semua. Anak saya pertama lahir di sana. Namanya Riska Safitri. dia menunjuk seorang anak perempuan dengan rambut poni di poto tadi.
"Umurnya 7 tahun. Baru masuk sekolah tahun ini. Tapi dia sudah pandai nyanyi bahasa inggris,pak! Nggak tau belajar sama siapa."
"lagu apa?" tanyaku.
Dia agak terkejut karena aku mau bertanya. 
"you are beautiful...beautiful...cherrybelle! Katanya artinya kamu cantik...cantik dari hatimu... Bapak tau artinya? Pasti bapak bisa bahasa inggrislah ya? Betul artinya itu pak?"
Aku tersenyum dan mengangguk. Dia bangga sekali.
"anak saya yang kedua..." dia menunjuk anak perempuan satu lagi dipoto.
"ini namanya Siska Marisa. Umurnya 5 tahun. Belum sekolah. Dia lahirnya di medan. Pas istri saya hamil, bapak saya meninggal. Jadi kami balik ke medan. Eh...kok pas lahirnya di sana. Dia belum lancar bicaranya tapi dia suka nyapu atau nganterin teh untuk saya kalau saya pulang kerja." dia memandangku yang tertegun mendengar ceritanya.
"bapak sudah menikah?"
"ehm...sudah! Kenapa?" 
"potonya ada?"
Astaga, aku sudah ganti dompet. Dulu sih ada poto anak2ku tapi aku lupa apakah aku masih meletakkannya di dompet atau nggak. Aku ragu menarik dompetku. Tapi ya sudahlah... Dan ternyata memang tidak ada poto di dompetku. Dia memandangku tanpa ekspresi.
"itu mereka sedang apa pak?" tanyanya menunjuk pramugari yang sedang menjajakan jualan.
"mereka jualan!"
"jualan apa?"
"itu ada katalognya di sana. Lihat2 aja!"  entah kenapa aku jadi baik kepadanya setelah mendengar ceritanya.
Dia mengambil katalog dan melihat2 sampai dia menemukan pensil warna seharga 45 ribu.
"saya mau yang ini 2 ya?" Katanya saat pramugarinya datang.
"lho, dompet saya mana?" katanya panik. Kemudian dia mendapati dompetnya dikursi dekat pahaku.
"ya ampun, bapak ini...ganteng2..." katanya mengagetkanku.
"apa? Kamu kira saya ngambil dompetmu? Kan kamu sendiri yang letakin di situ!" aku benar2 emosi. Eh, dia malah cengengesan.
"tenang pak! Bercanda aja! Bapak ini orangnya seriusan ya saya lihat dari tadi!"
Dia membuka dompetnya. Terlihat dompet lusuh dengan banyak lipatan kertas di dalamnya. Sementara saya hanya melihat 3 atau 4 lembar uang 50 ribuan.
"sembilan puluh ribu ya,mbak? Yang ini aja ya..." katanya sambil mengeluarkan uang dari saku depan celananya yang sudah kumel2.
"biar saya aja yang bayar!" kataku kemudian. Ah, malaikat mana lah yg tadi menyuruhku berbuat ini.
"nggak usah,pak!"
"nggak apa2! kan untuk anak2 kamu kan? Anggap aja ini hadiah!"
"mbak denger sendiri ya! Saya nggak minta!" katanya kepada pramugari yang membuatku sebenarnya sedikit jengkel.
Dia menerima 2 buah pinsil warna dari pramugari. Dia menyalamiku dan berterimakasih.
"dompet biarpun jelek dan gak ada isinya tapi yang penting ada poto keluarga. Bisa bawa hoki." katanya sambil menunjukan dompet lusuhnya dan memasukan ke saku belakang celana.
"hoki apaan?" kataku dengan senyum sinis.
"lha...buktinya, begitu bapak ngintip dompet saya tadi, ya kan? Bapak jadi bayarin saya. Berarti kan hoki!" katanya tertawa lagi.
Pesawat sebentar lagi landing. Dia ambil posisi seperti saat take off. Berpegangan erat pada pegangan kursi, memejamkan mata dengan mulut komat-kamit.
Ya...poto keluargaku...kemana aku letakkan?????





Tidak ada komentar:

Posting Komentar