Kamis, 30 Oktober 2014

Cinta Yang Terabaikan (ketulah)



Dearest Vira ,

Apa kabar sayang?
Aku sungguh terkejut saat kamu mau membalas suratku. Walaupun aku bertanya-tanya,"ini untuk balasan suratku yang mana?" :D
Aku tidak menyangka kamu mau meluangkan waktu untuk menulis surat untukku, kendati aku yakin kamu pasti sangat sibuk sekali, seperti dulu...
Aku yakin saat kamu menerima surat ini, kamu baru sampai di rumah. Kamu langsung masuk kamar, melemparkan tasmu di atas tempat tidur dan langsung mengoyak sampul surat ini. Kamu terduduk di pinggir tempat tidur dengan senyum mengembang. Kemudian kamu rebahan dengan membayangkan wajahku.
Pada saat kamu membaca alinea ke dua suratku, seseorang akan mengetuk pintu kamarmu sembari berteriak,"Vira, nggak makan dulu?" dan sudah bisa aku tebak kalau kamu akan bilang,"iya...bentar lagi, ma!"
Vira sayang...
Ini adalah tahun ke dua aku jauh darimu. Ribuan kilo meter jauhnya jarak yang memisahkan kita. Yang tentu membuat aku kerap berharap untuk suatu pertemuan. Membayangkan hari-hari dapat bertemu seperti dahulu saat kita dekat, sedekat hati kita.
Kamu masih ingat kapan aku jauh darimu sebelum ini? Kalau kamu lupa, aku akan mencoba mengingatkannya.
Kita pernah berjauhan saat aku harus menghadiri pesta perkawinan kakak pertamaku di tebing. Padahal aku pergi hari sabtu sore dan pulang minggu malam. Hanya 1 malam, namun itu sudah sangat menyiksamu. Kamu kerap berpesan agar segera pulang, walaupun sebenarnya kamu berat sekali mengijinkanku pergi sebelumnya. Sepertinya Malam minggu tanpa diriku seperti berpuluh-puluh tahun. Andai saja aku bisa memilih saat itu, tentu aku lebih memilih untuk malam minggu bersamamu.
Vira sayang...
Aku masih menyimpan gelang kayu cendana yang dulu pernah kamu pakai dan terburai saat kamu mencoba melepaskan genggaman tanganku. Saat itu aku mencoba meminta maaf padamu atas kesalahanku yang telah membuat Edo marah kepadamu sehingga kalian tidak akrab lagi. Tanpa kamu ketahui, aku mengutipnya dan menyusunnya kembali. Aku suka wanginya, seperti aroma tubuhmu melekat di sana. Aku kini yang memakainya.
Kamu masih ingat gelang itu berasal?
Kita membelinya dari seorang penjaja uang lama dan barang antik. Ntah kenapa saat itu aku merasa bahwa gelang itu akan indah di tanganmu. Dengan harapan kelak tangan itu akan berada di dadaku. Mengelus hatiku yang rapuh.
"kalau mau belikan cewek gelang, harusnya gelang emas! Bukan kayu!" katamu mengejek saat aku mengenakannya di tanganmu. Aku saat itu hanya tersenyum dengan candaanmu.
Oh iya, Vira sayang...
Siapa nama teman Vira yang dulu kita datang ke pesta perkawinannya? Aku lupa. Bagaimana kabarnya? Apakah ia sudah mempunyai anak dari pernikahannya? Semoga mereka bahagia.
Aku masih ingat ucapannya saat kita menyalami mereka di pelaminan. "kapan nih menyusul?" katanya seraya memandang ke arahku untuk memastikan jawabanku.
"nyusul apa? Kawin? Ntarlah kalau udah dapat laki-laki yang kaya!" katamu bercanda. Aku kembali tersenyum dan mengusap-usap rambutmu dan kemudian kamu menampik tanganku.
Vira sayang...
Sebelum aku mengenalmu, aku belum pernah merasakan rasa suka yang teramat-sangat kepada seorang wanita. Kalau itu cinta, maka kamu yang telah menyematkan benih cinta itu kepadaku. Sebuah benih yang terus-menerus tumbuh di hatiku hingga menimbulkan hasrat untuk memilikimu. Bagiku kamu adalah satu-satunya wanita yang akan bersanding denganku hingga saat kematianku. Mata dan hatiku terbelenggu padamu hingga tak ada sedikit niatpun untuk memberikan sebahagian kecil dari cintaku kepada yang lain. Tidak, sesekali tidak. Bagiku kamu sudah mewakili wanita yang aku harapkan hadir di dunia ini untukku. Dan keyakinanku semakin tumbuh saat kita sering bersama dengan kisah-kisah yang kita jalani. Kamu lebih dari sekedar bidadari.
Vira sayang...
Kamu adalah wanita pertama yang membuatku jatuh cinta. Wanita pertama yang mengisi hari-hariku menjadi lebih indah dari sebelumnya. Wanita yang membuat matahari seakan tak mau berhenti menyinari meski kelam menyelimutiku. Aku tak pernah sendiri dan merasa sepi karena kehadiranmu di sisiku seolah menghadirkan alunan lagu dalam imajinasi hingga aku mengawali hari-hariku dengan suka-cita dan penuh gairah.
Vira sayang...
Aku sudah membaca surat yang kamu kirimkan padaku. Maaf bila lama aku baru membalasnya. Aku menyusun kata-kata yang aku harapkan bisa sesempurna tulisanmu. Ini adalah surat yang sudah kesekian kalinya dari surat-surat yang pernah aku coba buat untuk menjawab suratmu. Tong sampahku penuh dengan kertas-kertas dengan tulisan yang menurutku tak pantas aku kirimkan untuk orang sepertimu. Bidadariku...
Vira sayang...
Andai saja kamu tak pernah melayangkan surat untukku, tentu aku tak segundah seperti saat ini. Aku tersenyum saat membaca tulisanmu yang menanyakan "masihkah ada harapan untuk kita bersama?"
Aku takut mengartikan arti kalimat itu. Seperti yang sudah-sudah, kamu suka bercanda.
Namun entah mengapa, gundahku seperti tak berkesudahan. Ada perasaan rindu yang bergelut dengan mengabaikan. Kamu tak akan pernah bisa membayangkan apa yang kurasakan. Tak henti aku membuka-buka poto-poto kita yang masih kusimpan.
Vira sayang...
Saat aku memandangi poto kita berdua, baru aku tersadar betapa berartinya dirimu untukku. Kamu yang telah mengajari aku banyak hal, memberi motivasi bagaimana aku harus mengejar cita-cita dan hidup lebih baik.
Kamu selalu memintaku untuk mencontoh abang iparmu yang hanya dengan sedikit bantuan orang tuamu, ia telah sukses. Ia berhasil dengan bisnis propertinya dan kaya-raya. Itu karena ia memang sosok pria yang diidam-idamkan banyak wanita, dan kamu menginginkan aku seperti itu. 
Aku selalu mengingat itu. Aku mencoba mengejar cita-citaku agar hidupku lebih baik dari sebelum-sebelumnya, hingga saat ini aku harus berkutat dengan setumpuk pekerjaan demi kesuksesan yang aku idam-idamkan, atau yang kamu inginkan dariku.
Vira sayang...
Kamu juga mengajari aku bagaimana aku harus bersikap sebagai laki-laki sejati. Kamu mengajari aku bagaimana aku harus menghentikan tindakan semena-mena kakakku yang selalu saja mencampuri urusan kita. Hingga akhirnya kini ia telah menerimaku sebagai seorang adik yang mandiri yang tak perlu campur-tangannya setiap saat karena hanya  doa yang harusnya ia panjatkan  untukku.
Vira sayang...
Tentu kamu masih ingat si Sinta. Cewek gendut yang duduk di bangku depan yang selalu kamu bilang caper dan munafik? Tentu kamu masih ingat, kan? Karena setiap saat kamu selalu mengejekku bahwa Sinta adalah wanita yang pantas menjadi pendampingku kelak. Kamu sangat membencinya, dan aku juga. 
Aku begitu risih dengan sikapnya yang selalu cari perhatian dariku. Banyak sekali hal-hal yang dibuatnya untukku agar aku tertarik dengannya.
Pada saat ia berulang-tahun, kita malah pergi berdua jalan-jalan. Kita sengaja untuk tidak hadir di pesta ultahnya.
Betapa marahnya ia padaku saat kamu mengatakan padanya bahwa kita sengaja pergi jalan-jalan agar tidak datang ke pestanya. Ia membenciku. Tapi bagiku merupakan suatu anugrah agar aku selalu dekat denganmu, agar ia tau bahwa aku telah memilikimu. Walaupun kamu terus-terusan mengejekku agar aku menerima cintanya.
Vira sayang...
Saat-saat bersamamu adalah saat yang paling indah yang pernah aku rasakan. Aku tidak akan membuangnya dalam ingatanku sedikit jua, karena bagiku semua itu adalah cerita yang indah yang tidak setiap orang memilikinya.
Vira sayang...
Aku yakin kamu telah mengetahuinya bahwa aku akan menikah. Bila kamu baca suratku sebelum ini, aku kerap berharap kamulah yang menjadi pendamping hidupku. Hingga saat ini, terutama saat aku membaca suratmu yang menginginkan aku kembali padamu.
Kami memang belum mengabarkan hal ini secara resmi karena kami mencoba untuk mempersiapkan segala-sesuatunya terutama hati. Karena bagaimana mungkin hati  kami akan menyatu bila sebagian lain bertaut pada bayang-bayang masa lalu.
Dia bukan seorang wanita yang memenuhi rasa suka dari laki-laki di dunia ini. Termasuk aku. Semuanya serba biasa, tak ada yang istimewa. Bahkan sempat aku bertanya dalam hati,"apa sebenarnya yang membuat aku berkeinginan menikahinya?"
Awalnya aku berpikir bahwa ini adalah pelampiasan dari rasa kecewa yang dalam. Dari sesuatu yang hilang di masa lalu dan ingin kususun kembali pada hatiku yang terburai saat engkau mencoba melepaskan dan mengabaikan apa yang pernah kita ikrarkan.
Lama aku berpikir akan hal ini. Aku khawatir akan menyakiti hatiku sendiri dan hatinya karena cinta tak pernah ada di antara kami meski kisah-kisah telah kami jalani. Bagaimana mungkin aku menikah tanpa cinta?
Vira...
Akhirnya aku menemukan jawaban. Ternyata dalam pernikahan tidak harus cinta yang diutamakan. Seseorang yang mau aku nikahi adalah lebih dari cukup untuk seorang laki-laki yang patah hati.
Dia sangat biasa. Namun cintanya padaku sangat luar biasa. Mengalahkan ketidak cintaanku padanya. Egoku luluh seketika, berganti dengan hasrat untuk ingin terus bersamanya sampai kapan jua hingga maut yang berbicara.
Dia menciptakan penyejuk pada diriku yang penuh dahaga atas dirimu yang dulu enggan mempertahankan janji setia yang kita ucap bersama hanya karena aku terlalu banyak salah dan kekurangan di matamu.
Aku bukan laki-laki sempurna yang dapat membuatmu bermanja-manja, bukan laki-laki yang membuatmu terus merasa bahagia bersamaku. Hingga hasratmu untuk mempertahankan ikrar itu runtuh. Aku sungguh memaklumi itu, hingga kuputuskan untuk menjauh. Karena seberapapun aku berusaha, sebanyak itu pula keinginanmu atas diriku bertambah. Hanya menyerah yang dapat membuatmu lega hingga kamu dapat melontarkan hina.
Aku lelaki biasa yang sama biasanya dengan wanita yang akan aku nikahi. Kami ditautkan oleh serba biasanya kami. Tapi dalam serba biasa itu, kami mencoba menyusun hati  kami bersama untuk mempertahankan apa yang harus kami pertahankan. Di situlah sesuatu yang darimu tak pernah aku dapatkan.
Vira...
Aku pernah merasakan bagaimana sakitnya diabaikan. Aku tak ingin membuat orang yang mengenalkan cinta padaku untuk merasakan rasa sakit itu. Aku ingin dia bahagia. Aku ingin kamu bahagia, vira...
Kamu wanita yang sempurna di mata laki-laki manapun di duni ini. Tak akan ada laki-laki yang berani menafikan bayang-bayangmu dalam tidurnya setelah kamu mengatakan cinta.
Namun tak ada laki-laki yang terus berharap bayang-bayangmu dalam mimpinya. Mereka ingin memilikimu seutuhnya, bahkan saat ia membuka mata.
Kita memang bukan untuk dipersatukan di dunia ini. Memaksakannya hanya akan membuat segalanya menjadi semakin menyakitkan pada hari-hari yang akan kita jalani.
Tidak ada yang salah di antara kita. Campur-tangan Tuhanlah yang membuat segalanya menjadi seterang langit siang. Kita bukan pasangan yang diinginkan Tuhan.
Vira...
Kita hentikan surat-menyurat ini. Jangan hiraukan lagi gundah yang aku alami. Jangan pertanyakan lagi harapan-harapan padaku yang telah memilih.
Kamu akan mendapatkan lebih dari yang kamu harapkan dariku. Percayalah...
Vira...
Ribuan kilo jarak yang memisahkan kita, bukan berarti aku lupa segala yang pernah kita alami bersama. Namun untuk mengenangnya yang mungkin aku tak bisa karena kini aku mempunyai kisah sendiri dengannya, dan aku takut lupa...

"Love, it doesnt mean love without love"


Balikpapan, 11 Agustus 2003

Dimas Bintara dan Sinta Rajudin



 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar